Ekonomi Biru (Blue Economy): Definisi, Prinsip, serta Contoh

Posted on
Share artikel ini

Bagaimana cara mengurangi biaya logistik laut di Indonesia tanpa merusak lingkungan laut? Solusinya terletak pada ekonomi biru (blue economy). Pendekatan global ini mengintegrasikan keuntungan bisnis dengan perlindungan laut. Para pelaku industri logistik kini menggunakan strategi ini untuk menekan biaya bahan bakar sambil tetap menjaga habitat dari sumber daya laut yang Anda kelola.

Selama ini, kurangnya infrastruktur menyebabkan biaya operasional menjadi tinggi. Dengan menerapkan ekonomi biru, Anda dapat merancang rute pelayaran yang lebih efisien untuk memperpendek waktu berlabuh kapal. Akibatnya, emisi karbon dapat dipangkas dan perusahaan mampu menekan pengeluaran bahan bakar setiap hari secara signifikan tanpa mengorbankan kinerja bisnis Anda.

Nah, untuk bantu Anda mengambil tindakan dalam kondisi maritim Indonesia saat ini, kami akan jelaskan lebih mengenai blue economy. Dalam artikel ini, akan dibahas secara mendalam mengenai apa itu ekonomi biru di Indonesia, serta dampak nyata yang dihasilkannya dalam menciptakan keuntungan jangka panjang dan menjaga kelancaran operasional logistik usaha Anda di masa depan.

starsKey Takeaways
  • Blue economy ialah pendekatan holistik yang mengintegrasikan pemanfaatan sumber daya laut dengan pembangunan ekonomi berkelanjutan, kesejahteraan sosial, dan kesehatan ekosistem.
  • Ekonomi biru berlandaskan lima prinsip utama keberlanjutan ekosistem, inklusi sosial dan kesejahteraan, efisiensi sumber daya, ketahanan pangan, dan investasi yang bertanggung jawab.
  • Ekonomi biru membuka peluang besar bagi Indonesia, dengan logistik maritim sebagai kunci penggerak konektivitas dan daya saing nasional.
  • Tantangan ekonomi biru mencakup kesenjangan infrastruktur, kebutuhan investasi teknologi, dan kurangnya data yang akurat, meskipun potensinya besar.
  • Software logistik ScaleOcean bantu memperkuat transformasi digital logistik maritim Indonesia dalam ekonomi biru dengan menghadirkan fitur unggulan untuk efisiensi, transparansi, dan pengurangan pemborosan operasional.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa Itu Blue Economy (Ekonomi Biru)?

Blue Economy atau ekonomi biru adalah konsep pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk mendorong ekonomi tanpa merusak ekosistem. Istilah ini dipopulerkan Gunter Pauli melalui bukunya yang berjudul The Blue Economy: 10 Years, 100 Innovations, 100 Million Jobs.

Konsep ini meliputi berbagai bidang di sektor kelautan, mulai dari perikanan, akuakultur, pelayaran, energi laut, pariwisata bahari, hingga bioteknologi kelautan. Setiap sektor diarahkan agar tetap menghasilkan nilai ekonomi, namun tetap menjaga daya dukung laut.

Manfaat ekonomi biru tidak hanya terlihat dari peningkatan pendapatan, tetapi juga dari peningkatan kualitas hidup masyarakat yang tinggal di pesisir, terciptanya lapangan kerja baru, serta pengurangan angka kemiskinan. Mengesampingkan hal itu, konsep ini juga berkontribusi pada pemeliharaan kesehatan laut dan mendukung penerapan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Di Indonesia, ekonomi biru dapat diterapkan melalui cara-cara seerti pengelolaan perikanan berkelanjutan, pelabuhan yang lebih rendah emisi, pariwisata bahari yang bertanggung jawab, serta proses freight forwarding yang lebih ramah lingkungan. Dengan cara ini, kegiatan maritim dapat berkembang tanpa merugikan ekosistem laut.

2. Prinsip Utama Ekonomi Biru

Prinsip ekonomi biru mengarahkan semua aktivitas kelautan agar tetap memberikan nilai sambil menjaga kelestarian laut. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya harus melestarikan ekosistem, mendukung komunitas pesisir, mengurangi limbah, memperkuat ketahanan pangan, dan memastikan bahwa investasi dilakukan dengan tanggung jawab yang jelas. Ini penjelasan dari tiap prinsipnya:

a. Keberlanjutan Ekosistem

Keberlanjutan ekosistem ini mendorong pemanfaatan laut tanpa merusak habitat, biota, dan kualitas airnya. Apa artinya? Ini berarti sektor perikanan, energi, dan pelayaran perlu mengurangi emisi, meminimalkan limbah, serta menjaga produktivitas laut untuk waktu yang panjang.

b. Inklusi Sosial dan Kesejahteraan

Ekonomi biru tidak hanya bicara soal laut, tetapi juga orang-orang yang hidup dari laut ini. Karena itu, pertumbuhan sektor maritim harus membuka pekerjaan, menaikkan pendapatan nelayan, dan memberi ruang bagi masyarakat pesisir untuk ikut menikmati hasilnya.

c. Efisiensi Sumber Daya (Zero Waste)

Efisiensi sumber daya berarti setiap hasil dari laut harus dimanfaatkan dengan lebih bijak, bukan hanya berakhir sebagai limbah yang mengganggu ekosistem. Dengan menerapkan praktik zero waste, ekonomi sirkular, dan juga sumber energi terbarukan seperti angin, arus, atau pasang surut, nilai laut dapat dikelola lebih lama.

d. Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan juga menjadi bagian yang penting! Mengapa demikian? Karena laut menawarkan sumber protein bagi banyak masyarakat di Indonesia. Namun, produksinya harus tetap dikelola melalui praktik perikanan dan akuakultur yang berkelanjutan, sehingga kebutuhan pangan bisa dipenuhi tanpa menghabiskan populasi ikan secara berlebihan.

e. Investasi Bertanggung Jawab

Investasi yang bertanggung jawab menjamin bahwa pendanaan di sektor kelautan tak hanya berorientasi pada keuntungan semata. Tiap proyek perlu mengikuti standar keberlanjutan, tata kelola yang baik, dan dampak sosial yang terukur, agar pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan kelestarian laut.

3. Ruang Lingkup Ekonomi Biru

Ruang Lingkup Ekonomi Biru

Sektor apa saja yang menjadi motor penggerak blue economy? Industri perikanan, pariwisata bahari, bioteknologi, hingga energi terbarukan kini berkolaborasi untuk mengamankan pasokan pangan, menciptakan bahan baku premium, dan menyuplai listrik mandiri guna mendatangkan keuntungan bisnis tanpa merusak laut. Pahami lebih detail dari ruang lingkupnya dibawah ini:

a. Perikanan dan Budidaya

Perikanan dan budidaya adalah sektor utama dalam konsep ekonomi biru. Mengapa begitu? Karena ruang lingkup ini langsung terkait dengan pasokan pangan laut. Melalui penangkapan yang terukur dan akuakultur berkelanjutan, hasil laut tetap bisa memenuhi kebutuhan pasar tanpa menekan populasi ikan secara berlebihan.

b. Pariwisata Bahari

Pariwisata bahari mendorong pemanfaatan laut sebagai ruang ekonomi yang tetap melindungi lingkungan. Melalui ekowisata yang dikelola oleh komunitas, warga pesisir dapat menghasilkan pendapatan, sementara ekosistem terumbu karang, pantai, dan habitat laut tetap dilestarikan sebagai kekayaan alam yang berkelanjutan.

c. Bioteknologi Kelautan

Produksi bioteknologi laut menyediakan sumber daya bawah laut yang belum tergali untuk dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari industri farmasi, kosmetik, bahan alternatif, dan sebagainya. Contohnya, rumput laut dapat digunakan sebagai bahan dasar bioplastik, sehingga laut tidak hanya menjadi sumber pangan melimpah, tetapi juga mampu menghasilkan bahan inovatif untuk kebutuhan industri.

d. Energi Terbarukan

Pemanfaatan gelombang laut, pasang surut, arus air laut, atau angin lepas pantai inilah yang menjadi sumber energi laut (ocean energy). Energy laut dapat menghasilkan pasokan energi dengan emisi rendah dan menjadi harapan baru negara kepulauan untuk terbebas dari bahan bakar fosil.

Berdasarkan analisis kami terhadap data UNCTAD, ocean economy telah tumbuh 2,5 kali sejak 1995. Pertumbuhan ini lebih cepat dibanding ekonomi dunia yang naik 1,9 kali, sehingga menegaskan bahwa sektor kelautan semakin penting dalam ekonomi global.

4. Pentingnya Blue Economy bagi Bisnis Logistik Indonesia

Indonesia memiliki potensi maritim besar yang membuka peluang bagi bisnis logistik untuk berkembang secara berkelanjutan. Berdasarkan analisis kami atas data World Bank, sumber daya laut Indonesia memiliki nilai ekonomi lebih dari US$256 miliar per tahun. Angka ini setara lebih dari seperempat ekonomi nasional, sehingga menunjukkan besarnya potensi blue economy bagi Indonesia.

Selain itu, pendekatan ekonomi biru membantu perusahaan memenuhi tuntutan konsumen dan mitra internasional terhadap praktik bisnis hijau. Perubahan ini tidak hanya menjaga ekosistem laut, tetapi juga memperkuat posisi perusahaan dalam rantai pasok yang lebih modern dan efisien. Disini akan dijelaskan lebih mengenai tujuan blue economy:

a. Peluang Bisnis Kelautan

Ekonomi biru memberikan peluang bagi industri logistik untuk memperkuat distribusi hasil laut antar pulau melalui pengiriman ramah lingkungan dan cold chain. Nah, ketika sistem ini berkolaborasi dengan koperasi nelayan, aliran pasok dapat menjadi lebih lancar dari tepi pantai hingga ke pasar. Namun apa hasilnya? Produk lokal dapat lebih cepat sampai ke konsumen, dan posisi Indonesia sebagai pusat maritim semakin menguat.

b. Efisiensi Operasional

Penerapan blue economy ini bantu bisnis logistik laut untuk menekan beban operasional tanpa menghambat alur distribusi. Perusahaan dapat mulai dari penggunaan kapal hemat energi, bahan bakar rendah emisi, hingga pengaturan rute yang lebih presisi di jalur padat seperti Jawa-Sumatra dan wilayah timur Indonesia. Dengan begitu, pelayaran antarpulau bisa berjalan lebih terkendali, biaya energi turun, serta barang sampai ke tujuan dengan alur yang lebih tertata.

Di sisi lain, digitalisasi pelabuhan dan konsep green port di Belawan, Tanjung Priok, hingga Makassar juga memperlancar arus barang. Waktu tunggu kapal bisa berkurang, proses bongkar muat bergerak lebih rapi, dan layanan logistik jadi lebih siap menghadapi kebutuhan bisnis. Nah, di sinilah ekonomi hijau dan ekonomi biru saling melengkapi dengan salah satu menekan emisi, sementara yang lain menjaga aktivitas maritim tetap produktif tanpa mengorbankan ekosistem laut.

c. Penguatan Rantai Pasok dan Reputasi

Ekonomi biru membuat peran bisnis logistik makin penting dalam rantai pasok maritim. Ocean freight adalah layanan pengiriman laut yang membantu distribusi antarpulau, terutama untuk membawa hasil laut dari Indonesia timur ke pasar utama dengan kapasitas besar dan biaya lebih terkendali.

Melalui pendekatan ini, perusahaan ikut mendorong pemerataan ekonomi pesisir sekaligus menjaga biaya tetap rasional lewat freight consolidation. Selain itu, komitmen pada blue economy memperkuat reputasi bisnis, karena pelanggan kini melihat keberlanjutan sebagai bukti tanggung jawab, bukan sekadar nilai tambah.

5. Penerapan Blue Economy dalam Industri Logistik Indonesia

Integrasi prinsip ekonomi biru ke dalam industri logistik maritim adalah langkah transformatif yang akan membentuk masa depan sektor ini. Ini bukan sekadar tentang memindahkan barang dari satu titik ke titik lain, tetapi melakukannya dengan cara yang meminimalkan jejak ekologis, memaksimalkan efisiensi, dan mendukung keberlanjutan sektor kelautan secara keseluruhan.

Perhatikan beberapa penerapan blue Economy di Indonesia dibawah ini:

a. Fokus pada Transportasi Laut Rendah Emisi

Industri perkapalan global merupakan kontributor utama emisi gas rumah kaca. Transisi menuju transportasi laut yang lebih hijau adalah pilar utama ekonomi biru dalam logistik, dengan fokus pada kapal berteknologi ramah lingkungan yang menggunakan bahan bakar alternatif dengan emisi lebih rendah.

Contohnya adalah penggunaan kapal LNG yang menggunakan Liquefied Natural Gas (LNG) sebagai bahan bakar dengan emisi lebih rendah. Pengembangan kapal bertenaga listrik, hidrogen, atau amonia hijau juga menjadi fokus riset global, membantu perusahaan logistik memenuhi regulasi emisi internasional yang ketat.

b. Peningkatan Efisiensi Logistik Kelautan

Dalam logistik berkelanjutan, efisiensi adalah segalanya. Hambatan seperti delay, rute memutar, atau kapasitas muatan yang mubazir cuma membuat BBM jadi boros, emisi ikut naik, dan biaya membengkak. Makanya, ekonomi biru hadir untuk mendorong optimasi total di setiap lini, mulai dari pengaturan muatan hingga operasional pelabuhan.

Ini bisa dicapai dengan manajemen pelabuhan yang lebih baik untuk mengurangi waktu sandar, penggunaan kapal kargo yang lebih efisien, dan perencanaan rute cerdas menggunakan data cuaca dan arus laut. Peningkatan konektivitas antar moda transportasi juga penting untuk rantai pasok yang lebih efisien.

Pemilihan jenis kontrak yang tepat, seperti skema time charter dan freight charter, juga membantu perusahaan mengatur frekuensi pelayaran yang lebih stabil dan terencana.

c. Digitalisasi dan Inovasi dalam Rantai Pasok Maritim

Transformasi digital saat ini menjadi elemen penting dalam membangun sistem logistik yang efisien dan transparan. Dengan memanfaatkan integrasi platform digital, IoT, dan big data, Anda dapat melacak pergerakan kargo secara langsung sambil mengotomatisasi dokumen-dokumen administrasi. Namun, apa manfaat terbesar bagi tim operasional? Proses ini terbukti efektif dalam mengurangi inefisiensi dan menekan kemungkinan kesalahan manusia di lapangan.

Di sisi sebaliknya, teknologi seperti blockchain berperan dalam meningkatkan transparansi dan kemampuan melacak di seluruh rantai pasokan. Mengapa fitur ini diperlukan? fitur ini digunakan dalam memastikan asal produk perikanan untuk mencegah praktik unreported, and unregulated (IUU) fishing. Melalui inovasi digital semacam ini, ekosistem logistik maritim tidak hanya semakin terintegrasi, tapi juga jauh lebih responsif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai langkah praktis untuk menerapkan digitalisasi tersebut, perusahaan dapat memanfaatkan solusi terintegrasi yang siap digunakan di sektor maritim. Software logistik ScaleOcean menawarkan sistem end-to-end untuk mengelola rantai pasok maritim dengan lebih efisien.

Teknologi yang dihadirkan mencakup optimalisasi pengiriman, pelacakan barang secara real-time, serta kemudahan manajemen kepabeanan yang membantu menekan biaya dan meningkatkan efisiensi operasional. Anda juga dapat mencoba demo gratis ScaleOcean terlebih dahulu agar lebih mudah menilai kesesuaiannya bagi kebutuhan bisnis Anda.

d. Logistik Berkelanjutan untuk Sektor Perikanan dan Akuakultur

Sektor perikanan dan akuakultur punya peran besar dalam ekonomi biru, tetapi kualitas hasil laut sangatlah bergantung pada dukungan logistik yang tepat sasaran. Karena itulah, bisnis logistik perlu menjaga aliran cold chain sejak tangkapan laut diangkut dari kapal hingga masuk ke dalam fasilitas penyimpanan. Dengan alur ini, kesegaran komoditas akan tetap terjaga dan asal produk bisa ditelusuri dengan lebih jelas.

Distribusi yang tertata juga membantu menekan kerugian setelah panen, yang masih menjadi tantangan di Indonesia sampai kini. Melalui sistem pengawasan yang tegas dari semua pihak, perusahaan dapat memastikan keaslian kargo laut dan menjaga kualitasnya sampai ke pasar. Langkah ini penting sekali, apalagi pasar internasional kini semakin menuntut produk yang aman, terlacak, dan ramah lingkungan.

Logistik

6. Contoh Penerapan Blue Economy di Indonesia

Inisiatif di Indonesia menunjukkan penerapan prinsip ekonomi biru dalam praktik. Contoh blue economy adalah pengembangan pelabuhan ramah lingkungan yang mengurangi dampak ekologis melalui pengelolaan limbah dan penggunaan energi terbarukan, menunjukkan keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan.

Program tol laut juga mengatasi kesenjangan konektivitas antar pulau, menyediakan pengiriman barang lebih efisien dan terjangkau, serta mengurangi jejak karbon dengan kapal ramah lingkungan. Inisiatif ini mendukung pertumbuhan ekonomi pesisir.

Selain itu, inovasi kapal berbahan bakar LNG semakin berkembang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Inovasi ini membantu sektor kelautan Indonesia memenuhi regulasi emisi internasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi biru yang berkelanjutan.

Blue economy KKP juga terlihat dari lima kebijakan utama, mulai dari perluasan kawasan konservasi, penangkapan ikan terukur, budidaya berkelanjutan, pengelolaan pesisir dan pulau kecil, hingga pengurangan sampah plastik laut. Arah ini menunjukkan bahwa ekonomi laut perlu tumbuh bersama kesehatan ekosistem.

Merujuk dari Bappenas, kami menemukan bahwa Indonesia menargetkan kontribusi ekonomi biru terhadap PDB meningkat dari 7,92% pada 2022 menjadi 15% pada 2045. Target ini memperlihatkan arah strategis pemerintah dalam mendorong sektor kelautan yang lebih produktif.

7. Tantangan Implementasi Blue Economy dalam Logistik

Tantangan Implementasi Blue Economy dalam Logistik

Meskipun memiliki potensi yang menjanjikan, namun transisi menuju ekonomi biru dalam sektor logistik di Indonesia tidaklah mudah. Terdapat serangkaian hambatan yang perlu diatasi secara sistematis melalui kolaborasi antara pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lainnya. Kami menyarankan Anda untuk memperhatikan tiap tantangan dibawah ini agar bisa menghindarinya:

a. Ambiguitas Definisi dan Kontradiksi Praktik

Perbedaan antara ekonomi maritim dan ekonomi biru sering kali membuat kebijakan tampak tidak jelas. Ekonomi maritim biasanya lebih menitikberatkan pada penggunaan sumber daya lautan untuk menghasilkan nilai ekonomi, sedangkan ekonomi biru menekankan pentingnya keseimbangan antara keuntungan, kelestarian lingkungan, dan dampak sosial. Tanpa adanya metrik yang jelas, pernyataan mengenai keberlanjutan dapat berpotensi menjadi tindakan blue-washing.

Tantangan lain muncul ketika kegiatan ekonomi bertentangan dengan upaya pelestarian laut, misalnya dalam pembangunan pelabuhan yang dapat mengancam ekosistem mangrove. Oleh karena itu, perencanaan ruang laut seharusnya didasarkan pada data dan pedoman yang jelas. Dari sisi logistik, transparansi mengenai data kargo juga sangatlah dibutuhkan agar risiko seperti klaim general average tidak menghalangi pembagian tanggung jawab keuangan.

b. Kesenjangan Infrastruktur Logistik

Keterbatasan infrastruktur logistik maritim masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Hal ini terlihat dari kinerja logistik nasional yang menurun, di mana Logistics Performance Index (LPI) 2023 dari Bank Dunia mencatat posisi Indonesia turun dari peringkat 46 pada 2018 menjadi peringkat 61 pada 2023.

Penurunan ini mengindikasikan bahwa infrastruktur logistik maritim di Indonesia masih menghadapi kesenjangan, terutama antara wilayah barat dan timur. Banyak pelabuhan di luar Jawa yang belum memiliki kapasitas dan fasilitas memadai untuk menangani kargo secara efisien. Keterbatasan infrastruktur pendukung, seperti akses jalan dan fasilitas rantai dingin, juga menjadi kendala utama.

Kesenjangan ini menghambat konektivitas dan meningkatkan biaya logistik, terutama untuk produk perikanan dan kelautan dari daerah terpencil. Mengatasi masalah dari ketimpangan infrastruktur ini memerlukan investasi yang besar dan perencanaan strategis jangka panjang dari pemerintah pusat. Tanpa konektivitas yang merata, potensi ekonomi biru di seluruh nusantara tidak akan pernah teroptimalkan.

c. Kebutuhan Investasi dan Teknologi

Peralihan menuju logistik yang lebih hijau butuh teknologi baru yang lebih modern, dan di sinilah tantangan biayanya mulai terasa. Perusahaan perlu menyiapkan investasi besar untuk kapal rendah emisi, sistem digital pelabuhan, hingga cold storage yang modern. Bagi banyak bisnis logistik, terutama skala kecil dan juga menengah, kebutuhan modal ini bisa menjadi hambatan yang cukup berat hingga impossible to fulfilled.

Makanya, dukungan pemerintah lewat insentif pajak, pinjaman lunak, atau pendanaan khusus sangat dibutuhkan. Sinergi publik-swasta juga bisa membuka jalan untuk mendanai proyek logistik berkelanjutan skala besar. Namun, bagaimana jika dukungan finansial ini minim? Tanpa modal yang kuat, adopsi teknologi ramah lingkungan bakal berjalan lambat dan tertinggal dari kebutuhan industri.

d. Tantangan Data dan Keahlian

Kebijakan ekonomi biru yang efektif bergantung pada informasi yang tepat, mulai dari keadaan laut hingga trafik kapal. Sayangnya, Indonesia masih menghadapi kesulitan dalam mengumpulkan dan menyatukan data kelautan tersebut. Lalu, bagaimana kita bisa merancang rencana logistik yang komprehensif jika data yang ada saja belum terkoordinasi?

Di sisi lain, kebutuhan tenaga ahli juga terus meningkat. Industri membutuhkan lebih banyak SDM yang memahami logistik maritim modern, teknologi digital, dan manajemen keberlanjutan. Karena itulah, pendidikan vokasi dan pelatihan kelautan perlu diperkuat agar pelaku industri siap menjalankan ekonomi biru dengan cara yang lebih terukur.

8. Kesimpulan

Ekonomi biru (blue economy) merupakan suatu cara dalam pembangunan yang mengatur pemanfaatan sumber daya laut serta perairan demi menciptakan nilai ekonomi secara berkelanjutan. Tujuannya tidak hanya untuk mengambil hasil dari laut, tetapi juga mendorong terjadinya inovasi, menjaga keseimbangan ekosistem, serta memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat dalam jangka panjang, termasuk pelaku usaha.

Bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan, ekonomi biru memiliki potensi sebagai pendorong pertumbuhan baru dalam sektor maritim. Dengan pengelolaan yang baik, kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto dapat meningkat, jumlah lapangan pekerjaan di pesisir bisa bertambah, dan kegiatan ekonomi tetap berlangsung tanpa membahayakan kesehatan laut dan habitat masyarakat.

Software logistik ScaleOcean mendukung langkah ini lewat optimasi rute, pelacakan real-time, dan digitalisasi proses pabean. Alhasil, operasional bisnis jadi jauh lebih hemat sumber daya dan ramah lingkungan. Coba demo gratis ScaleOcean sekarang untuk melihat kecocokannya dengan kebutuhan Anda.

FAQ:

1. Apa itu blue economy dan green economy?

Green Economy fokus pada pengelolaan sumber daya secara umum, sementara Blue Economy berfokus pada pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.

2. Apa saja contoh kegiatan ekonomi biru?

Contoh ekonomi biru meliputi penangkapan ikan berkelanjutan, yang mendorong praktik tangkap ikan yang bertanggung jawab untuk melindungi ekosistem laut dan mengurangi penangkapan sampingan.

3. Berapa proyeksi pertumbuhan ekonomi biru?

Proyeksi ekonomi biru diperkirakan mencapai USD 3 triliun pada 2030, dengan sektor bawah laut global tumbuh dari 50 miliar euro menjadi 140 miliar euro per tahun pada 2035.

Lara Zafira Rifta
Lara Zafira Rifta
Lara adalah penulis konten dengan 1 tahun pengalaman dalam membuat artikel SEO seputar bisnis, akuntansi, dan operasional. Ia terbiasa menulis konten yang jelas, informatif, dan sesuai kebutuhan brand.

ERP Buat Bisnis Ngebut

Operasional rapi, bisnis makin cepat

ERP Dashboards Demo Gratis
Dekson Sinarmas Bank of China Changi Shalby

Coba Demo Gratis!

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap