Apa itu Minimum Viable Product (MVP), Tujuan dan Contohnya

Posted on
Daftar Isi [hide]
Share artikel ini

Perusahaan enterprise kerap memaksakan penerapan seluruh modul ERP secara serentak tanpa penyelarasan business process management (BPM) yang matang. Langkah terburu-buru ini memicu kelumpuhan operasional sementara karena karyawan belum siap beradaptasi dengan sistem kerja sistem baru.

Situasi makin memburuk saat perusahaan bingung harus mendahulukan fitur yang mana. Ketidakjelasan ini memicu pelebaran cakupan proyek hingga waktu pengerjaan membengkak. Keterlambatan ini akhirnya membuat stakeholder meragukan efektivitas software baru tersebut.

Untuk menghindari risiko seperti itu, maka perusahaan harus menerapkan model Minimum Viable Product (MVP) saat meluncurkan sistem. Model ini hanya berfokus pada fungsi dasar untuk memberikan hasil yang cepat. Artikel ini akan membahas konsep, manfaat, serta penerapan MVP.

starsKey Takeaways
  • Minimum viable product adalah strategi peluncuran produk versi awal berfitur utama untuk menguji fungsi dasar sistem tanpa menunggu seluruh modul selesai.
  • Minimum viable product membantu menguji asumsi bisnis, mendapat validated learning, menekan risiko overbuilding, serta menata alokasi sumber daya.
  • Jenis minimum viable product meliputi Landing Page, Smoke Test, Explainer Video, Concierge, Wizard of Oz, hingga Single-Feature sesuai kebutuhan.
  • ScaleOcean Atlas hadir menghubungkan workflow pengembangan produk, budgeting, dan accounting secara terstruktur.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa Itu Minimum Viable Product?

Minimum Viable Product (MVP) merupakan strategi pengembangan produk yang meluncurkan versi awal sistem hanya dengan fitur-fitur paling utama. Perusahaan memilih strategi ini untuk menilai fungsi inti dari sistem dalam lingkungan tanpa menunggu semua modul selesai.

Melalui pendekatan ini, developer mengumpulkan feedback langsung dari pengguna akhir secara cepat. Umpan balik awal ini memungkinkan perusahaan untuk memahami kebutuhan sebenarnya dari pengguna sehingga para developer dapat memperbaiki kekurangan pada sistem sebelum melanjutkan lebih jauh lagi.

Dengan demikian, perusahaan dapat memangkas risiko pemborosan sumber daya dan biaya pengembangan proyek. Strategi ini memastikan pengembangan sistem tahap berikutnya berjalan lebih terarah, dan bagian ini menjelaskan definisi serta prinsip dasar dari konsep MVP tersebut.

2. Apa Tujuan Minimum Viable Product?

Perusahaan menerapkan MVP untuk menguji asumsi bisnis, mendapat validated learning, mengurangi risiko overbuilding, mempercepat feedback, menguji arah produk, serta mengalokasikan resource secara bertahap. Berikut ini adalah penjelasan lengkapnya:

a. Menguji Asumsi Bisnis

Perusahaan menggunakan pendekatan ini untuk memvalidasi hipotesis bisnis dalam lingkungan kerja yang sebenarnya. Langkah ini membantu perusahaan memastikan bahwa fitur yang mereka rancang benar-benar menjawab kebutuhan pengguna, sehingga bisnis tidak melangkah hanya berdasarkan spekulasi.

b. Mendapat Validated Learning

Dengan peluncuran versi pertama dari software, perusahaan berhasil mengumpulkan data mengenai penggunaannya. Data tersebut menjadi dasar bagi para pengembang untuk mengambil keputusan yang benar sekaligus meningkatkan fungsi sistem berdasarkan fakta dari lapangan.

c. Mengurangi Risiko Overbuilding

Strategi ini mencegah perusahaan membuang anggaran untuk membangun fitur rumit yang tidak terpakai. Perusahaan dapat memfokuskan sumber daya hanya pada fungsi paling penting, sehingga proses pengembangan sistem baru berjalan jauh lebih hemat biaya dan efisien sejak tahap awal.

d. Mempercepat Feedback

Peluncuran versi sederhana memungkinkan developer mengumpulkan respons pengguna dalam waktu singkat. Proses informasi yang cepat ini mempercepat perbaikan sistem, sehingga developer dapat segera menuntaskan berbagai kendala operasional sebelum masalah membesar.

e. Menguji Product–Market Direction

Peran MVP dalam bisnis adalah untuk memastikan proses pengembangan bisnis selalu mengikuti tren pasar. Evaluasi ini memungkinkan perusahaan menjadu fleksibel dalam strategi sistem sehingga mereka dapat mencapai hasil yang sesuai.

f. Mengalokasikan Resource secara Bertahap

Metode ini membantu perusahaan mengatur penyaluran dana dan tenaga kerja secara seimbang sesuai kebutuhan proyek. Perusahaan hanya menambah investasi saat fitur awal terbukti berhasil, sehingga risiko kerugian finansial akibat kegagalan sistem dapat ditekan secara maksimal.

3. Karakteristik Minimum Viable Product yang Baik

Karakteristik Minimum Viable Product yang Baik

Perusahaan perlu memastikan MVP menyelesaikan satu masalah inti, memiliki core value, menyasar target customer yang jelas, memiliki fitur secukupnya, menyediakan mekanisme feedback, serta dapat dikembangkan berdasarkan validasi. Berikut ini adalah karakteristik MVP:

a. Menyelesaikan Satu Masalah Inti

MVP adalah sistem yang berfokus penuh pada penyelesaian satu kendala utama operasional tanpa terdistraksi oleh fungsi tambahan. Pendekatan terarah ini membantu developer menciptakan solusi yang efisien, sehingga pengguna langsung merasakan manfaat sistem sejak peluncuran awal.

b. Memiliki Core Value yang Jelas

MVP menyajikan manfaat utama yang kuat dan terukur melalui versi awal produk. Kejelasan nilai ini mempermudah pengguna memahami fungsi penting sistem, sekaligus membedakan produk awal tersebut dari berbagai solusi alternatif lain di pasaran secara langsung dan jelas.

c. Ditujukan pada Target Customer yang Jelas

MVP mengarahkan solusinya pada kelompok pengguna spesifik yang menghadapi masalah operasional paling krusial. Karakteristik fokus ini memastikan sistem menerima tanggapan relevan dari pengguna tepat, sehingga penyempurnaan fitur berikutnya berjalan efektif.

d. Memiliki Fitur Secukupnya

Sistem hanya menyertakan fungsi-fungsi dasar yang penting untuk menjalankan operasional utama bisnis. Strategi membatasi jumlah fitur ini mencegah kerumitan penggunaan, sehingga pengguna dapat beradaptasi dengan cepat tanpa mengalami kebingungan saat memakai sistem.

e. Memiliki Mekanisme Feedback atau Measurement

MVP juga memiliki fitur untuk menilai interaksi dan juga mendapatkan feedback langsung dari pengguna. Adanya proses evaluasi seperti ini membantu para developer untuk secara objektif menganalisis kinerja sistem melalui data interaksi pengguna.

4. Apa Manfaat Minimum Viable Product bagi Bisnis?

Penerapan MVP memberi manfaat nyata bagi bisnis, mulai dari memvalidasi ide produk lebih awal, mengurangi risiko overbuilding, mempercepat learning cycle, mengoptimalkan budget development, memperoleh feedback pengguna, hingga memperpendek time to market. Berikut ini adalah manfaat MVP:

a. Memvalidasi Ide Produk Lebih Awal

Penggunaan strategi ini memungkinkan perusahaan untuk menentukan seberapa efektif sistem dalam proses bisnis yang sebenarnya. Validasi sejak awal memungkinkan perusahaan menjamin keberhasilan produknya untuk menghindari kesalahpahaman dari perusahaan yang bisa merugikan bisnis.

b. Mengurangi Risiko Mengembangkan Fitur yang Tidak Dibutuhkan

Pengembangan bertahap ini membatasi pembuatan fungsi rumit yang jarang terpakai oleh pengguna. Langkah memfokuskan perhatian pada kebutuhan utama mencegah pemborosan sumber daya perusahaan, serta memastikan sistem baru mendukung efisiensi kerja harian secara optimal.

c. Mempercepat Learning Cycle

Peluncuran versi awal memungkinkan tim untuk mempelajari dengan cepat tentang kebutuhan bisnis utama. Pembelajaran yang cepat ini memungkinkan para pengembang untuk menyelesaikan masalah dengan benar dan membuat proses pengembangan sistem pada fase berikutnya menjadi jauh lebih mudah.

d. Mengoptimalkan Penggunaan Budget Development

Bisnis dapat mengalokasikan anggaran software development secara bertahap sesuai prioritas kebutuhan yang tervalidasi. Pengelolaan dana yang terarah ini menjaga kestabilan finansial perusahaan, sekaligus memastikan setiap rupiah investasi memberikan imbal hasil operasional.

e. Memperoleh Feedback dari Pengguna Nyata

Perusahaan mendapatkan ulasan dan umpan balik langsung dari para pekerja yang mengelola sistem di lapangan. Informasi ini memberikan sebuah ide kepada para developer tentang perbaikan yang perlu mereka lakukan agar produk akhir memuaskan para pengguna.

f. Memperpendek Time to Market

Strategi ini memungkinkan perusahaan merilis sistem baru ke lingkungan kerja dalam waktu yang jauh lebih cepat. Peluncuran yang cepat ini membantu bisnis meraih keunggulan operasional lebih awal, sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan di tengah perubahan pasar.

5. Apa Saja Jenis Minimum Viable Product?

Perusahaan dapat menerapkan berbagai jenis MVP, mulai dari Landing Page, Smoke Test, Explainer Video, Concierge, Wizard of Oz, Single-Feature, hingga Limited-Market MVP sesuai dengan kebutuhan pengembangan. Berikut ini adalah penjelasan lengkap mengenai jenis-jenis tersebut:

a. Landing Page MVP

Bentuk MVP ini berupa situs web satu halaman yang memuat deskripsi produk, contoh tampilan sistem, dan tombol pendaftaran atau pemesanan. Developer merancang halaman ini untuk menampilkan manfaat utama sistem, sehingga pengunjung dapat melihat bentuk dan fungsi yang ada.

Dengan cara ini perusahaan akan dapat mengetahui jumlah orang yang berminat. Hal ini akan membantu perusahaan mengetahui tingkat permintaan pasar sebelum menginvestasikan uang untuk mengembangkan seluruh seluruh sistem secara utuh.

b. Smoke Test MVP

Tipe ini menampilkan halaman aplikasi atau tombol fitur baru yang seolah-olah sudah berfungsi penuh bagi pengguna. Saat pengguna menekan tombol tersebut, sistem menampilkan pesan bahwa fitur sedang dalam tahap pengembangan akhir atau membutuhkan akses khusus terlebih dahulu.

Strategi ini membantu developer mengumpulkan data jumlah klik guna mengukur minat pengguna terhadap fungsi baru. Dengan demikian, perusahaan tidak membuang biaya untuk memprogram fitur rumit sebelum memastikan tingkat kebutuhan pengguna yang sebenarnya.

c. Explainer Video MVP

Format MVP ini menyajikan video animasi singkat berdurasi 1-2 menit yang memperagakan simulasi cara kerja produk. Video menampilkan proses penggunaan sistem serta solusi yang produk tawarkan, sehingga calon pengguna dapat memahami fungsi aplikasi tanpa perlu melihat baris kode.

Penayangan video ini memungkinkan perusahaan mengukur antusiasme pasar melalui jumlah penonton, ulasan, dan pendaftaran minat. Respons positif penonton menjadi bukti awal bagi developer untuk melanjutkan pembuatan produk ke tahap pengembangan perangkat lunak sebenarnya.

d. Concierge MVP

Model ini memberikan layanan langsung kepada pengguna dengan bantuan tenaga manusia di balik layar. Perusahaan menangani seluruh proses operasional secara manual tanpa melibatkan otomatisasi aplikasi, sehingga pengguna tetap menerima manfaat langsung dari layanan tersebut.

Langkah ini membantu developer mempelajari secara mendalam setiap tahap proses kerja dan kendala pengguna. Pengetahuan ini memungkinkan perusahaan untuk menciptakan otomatisasi software sesuai dengan kebutuhan pengguna di tahap selanjutnya.

e. Wizard of Oz MVP

Sistem ini menampilkan tampilan aplikasi yang tampak otomatis dan canggih di depan pengguna. Namun, staf perusahaan mengeksekusi seluruh proses pemrosesan data di belakang layar secara manual tanpa sepengetahuan pengguna untuk memberikan pengalaman aplikasi yang utuh.

Pendekatan ini menguji tingkat respons dan kebiasaan pengguna saat menggunakan sistem secara langsung. Strategi ini meminimalkan anggaran pembuatan kode rumit, sehingga perusahaan dapat memvalidasi konsep aplikasi sebelum menginvestasikan dana pada pengembangan teknis.

f. Single-Feature MVP

Bentuk ini berupa aplikasi yang hanya menyajikan satu fungsi utama paling penting tanpa modul pendukung lainnya. Tim telah menampilkan tampilan produk dengan cara yang sangat sederhana sehingga pengguna dapat berkonsentrasi untuk menyelesaikan satu masalah utama tanpa gangguan fitur sekunder.

Fokus tunggal ini memudahkan developer menguji keandalan serta efektivitas fungsi utama tersebut secara mendalam. Perusahaan dapat memastikan nilai inti produk sudah bekerja secara sempurna di lapangan sebelum menambahkan fitur pendukung lain pada tahap berikutnya.

g. Limited-Market MVP

MVP ini berupa sistem utuh dengan modul lengkap yang rilis khusus untuk kelompok pengguna atau cabang bisnis terbatas. Perusahaan membatasi akses aplikasi ini hanya untuk segmen pengguna tertentu ini untuk mengamati kinerja sistem dalam prakteknya.

Uji coba terbatas ini membantu tim teknis mengidentifikasi bug dan kendala performa secara aman di lingkungan terkontrol. Perusahaan dapat menyempurnakan seluruh fungsi aplikasi berdasarkan evaluasi awal ini sebelum meluncurkan sistem ke pasar yang lebih luas.

6. Apa Perbedaan MVP, Prototype, dan Proof of Concept?

Perbedaan utama ketiganya terletak pada tujuan serta tahap pengembangan produk. Proof of Concept (PoC) membuktikan kelayakan ide teknis, Prototype menguji visual dan alur interaksi pengguna, sedangkan MVP menyajikan versi produk awal yang siap rilis ke pasar untuk meraih masukan nyata pengguna.

Perusahaan sering kali keliru dalam membedakan PoC, Prototype, dan MVP padahal ketiganya memiliki fokus dan fungsi pengembangan yang berbeda. Agar lebih mudah memahaminya, perhatikan tabel perbedaan di bawah ini:

Aspek  PoC Prototype  MVP
Pertanyaan Utama Apakah ide ini bisa kita buat secara teknis? Bagaimana tampilan dan simulasi alur produknya? Apakah pengguna benar-benar membutuhkan produk ini?
Fokus Utama Kelayakan teknis sistem Desain antarmuka dan alur kerja aplikasi Validasi kebutuhan pasar dan pengguna
Target Pengguna Tim internal perusahaan Tim internal dan penguji terbatas Pengguna langsung di lapangan
Kondisi Fungsi Menunjukkan konsep dasar teknis Menyajikan simulasi interaksi produk Menyediakan fitur dasar yang siap pakai
Hasil Akhir (Output) Bukti kelayakan teknis Masukan terkait desain dan tampilan Data pembelajaran yang tervalidasi

7. Apa Perbedaan MVP dan Produk Final?

MVP merupakan versi awal produk yang hanya memuat fitur-fitur paling utama untuk menguji kebutuhan pasar secara langsung. Perusahaan merilis sistem sederhana ini untuk mengumpulkan masukan pengguna, sehingga developer dapat memvalidasi konsep aplikasi dengan biaya dan risiko yang minim.

Sementara itu, produk final merupakan versi komprehensif yang telah memuat seluruh modul operasional serta fitur pendukung secara utuh. Sistem ini menyajikan tampilan yang lebih matang dan performa yang stabil, sehingga siap memenuhi kebutuhan pengguna secara luas dalam jangka panjang.

Kedua konsep ini saling terhubung secara berkesinambungan dalam proses pengembangan sistem. MVP adalah dasar dari pengujian hipotesis sedangkan produk jadi adalah hasil dari perbaikan secara bertahap MVP berdasarkan pengalaman pengguna di lapangan.

8. Bagaimana Cara Membuat Minimum Viable Product?

Bagaimana Menentukan Fitur Minimum dalam MVP

Dalam kerangka agile software development, perusahaan memulai proses pembuatan MVP dengan mengidentifikasi masalah utama pengguna dan menetapkan nilai inti produk yang ingin disampaikan. Tim developer kemudian menentukan fitur-fitur dasar yang paling krusial, sehingga proses perencanaan fokus pada pembuatan solusi yang tepat sasaran.

Setelah membatasi cakupan fitur, tim developer langsung merancang tampilan sistem yang praktis dan membangun produk awal tersebut. Tim developer berfokus pada kecepatan eksekusi untuk memastikan produk siap rilis ke lapangan, sehingga pengguna dapat menguji fungsi utama sistem tanpa menunggu lama.

Langkah terakhir melibatkan pengumpulan masukan pengguna secara aktif saat sistem mulai beroperasi di lapangan. Perusahaan mengolah data respons tersebut untuk memperbaiki kekurangan produk, sehingga developer dapat terus menyempurnakan fungsi sistem pada tahap pengembangan berikutnya.

9. Bagaimana Menentukan Fitur Minimum dalam MVP?

Perusahaan dapat menentukan fitur MVP dengan menerapkan metode Must Have vs Nice to Have, memprioritaskan risiko yang perlu divalidasi, mempertimbangkan dependency, serta menghindari scope creep. Berikut ini adalah fitur minimum MVP:

  • Must Have vs Nice to Have: Developer hanya memilih fitur inti yang penting bagi pengguna dan menunda pengembangan fitur lainnya yang tidak begitu penting saat ini.
  • Prioritaskan Risiko yang Perlu Divalidasi: Para developer berencana membangun sebuah fitur yang mungkin memiliki risiko tinggi gagal agar perusahaan dapat langsung memvalidasi hipotesis mereka.
  • Pertimbangkan Dependency: Developer membuat fitur dengan mempertimbangkan ketergantungan dalam urutan hubungan fungsional antar sistem agar proses pengembangan aplikasi dapat berjalan lancar tanpa masalah teknis.
  • Hindari Scope Creep: Tim developer membatasi penambahan fungsi baru di luar perencanaan awal agar waktu peluncuran produk ke lapangan tetap berjalan tepat waktu.

Untuk menjaga eksekusi fitur dan roadmap tersebut tetap terarah, ScaleOcean Atlas hadir memantau performa sistem, mengelola workflow tim, hingga menganalisis data operasional secara realtime agar proses evaluasi serta pengembangan MVP berjalan jauh lebih efisien.

10. Contoh Minimum Viable Product dalam Bisnis

Melansir dari Vanity Fair, perjalanan Airbnb’s bermula saat Brian Chesky dan Joe Gebbia membuat situs web AirBed & Breakfast pada 2007. Bersama Nathan Blecharczyk, mereka menyewakan kasur angin di ruang tamu untuk bayar sewa, hingga menjadi bukti awal tingginya minat pasar.

Seiring meningkatnya jumlah pengguna, tim terus menyempurnakan layanan berdasarkan pengalaman nyata wisatawan. Chesky dan tim memanfaatkan data serta algoritma pencocokan preferensi, sehingga bisnis startup seperti Airbnb dapat berkembang secara efisien hingga berskala luas.

Strategi pengembangan ini terbukti sukses besar hingga Airbnb mencatat 9 juta tamu pada 2013 dan pendapatan 900 juta dolar pada 2015. Capaian tersebut mengantarkan valuasi Airbnb menembus 30 miliar dolar pada 2016 dengan total pengguna lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia.

11. Bagaimana Mengukur Keberhasilan MVP?

Perusahaan dapat mengukur keberhasilan MVP melalui activation rate, adoption rate, user engagement, retention, conversion rate, task success rate, hingga customer feedback. Berikut ini adalah penjelasan mengenai indikator-indikator tersebut:

  • Activation Rate: Developer mengukur persentase pengguna baru yang berhasil menyelesaikan proses pendaftaran awal serta mencoba fitur utama sistem secara langsung.
  • Adoption Rate: Indikator ini menunjukkan tingkat kesediaan pengguna dalam memanfaatkan fitur-fitur baru aplikasi sebagai bagian dari rutinitas kerja harian mereka.
  • User Engagement: Tim menganalisis frekuensi serta durasi interaksi pengguna di dalam aplikasi untuk memantau seberapa aktif mereka memanfaatkan fungsi sistem.
  • Retention: Metrik ini menghitung persentase pengguna yang terus kembali menggunakan aplikasi secara berkala dalam jangka waktu tertentu setelah rilis awal.
  • Conversion Rate: Perbandingan dari jumlah pengguna yang mampu menyelesaikan sebuah tindakan, misalnya membeli sesuatu atau meningkatkan paket layanan pada sistem.
  • Task Success Rate: Indikator ini mengukur tingkat keberhasilan pengguna dalam menyelesaikan alur pekerjaan tertentu menggunakan fitur aplikasi tanpa mengalami kendala teknis.
  • Customer Feedback: Tim menerima umpan balik dari pengguna mengenai tingkat kepuasan mereka terhadap sistem dan kebutuhan perbaikan pada sistem.

12. Cara Mengolah Feedback setelah MVP Diluncurkan

Perusahaan mengolah feedback dengan mempertahankan fitur bervalue, memperbaiki hambatan, menghapus fitur tak terpakai, menambah prioritas, memperbarui roadmap, hingga menentukan kesiapan scale. Berikut ini adalah penjelasan mengenai cara mengolah feedback:

  • Pertahankan Fitur yang Memberikan Value: Developer mempertahankan fungsi-fungsi utama yang paling sering pengguna manfaatkan karena terbukti memberikan dampak positif bagi operasional harian.
  • Perbaiki Hambatan Utama: Tim teknis melakukan root cause analysis untuk mengidentifikasi dan menangani kendala bug yang paling sering mengganggu kenyamanan pengguna.
  • Hapus Fitur yang Tidak Digunakan: Perusahaan membuang fungsi-fungsi yang tidak relevan agar tampilan sistem tetap sederhana serta tidak membebani kinerja aplikasi secara keseluruhan.
  • Tambahkan Prioritas Berikutnya: Developer menyusun daftar kebutuhan baru berdasarkan masukan langsung pengguna untuk menentukan arah pengembangan fungsi pada tahap selanjutnya.
  • Perbarui Product Roadmap: Tim menyesuaikan kembali alur perencanaan pengembangan produk jangka panjang berdasarkan temuan data serta evaluasi penggunaan di lapangan.
  • Tentukan Kapan Produk Siap Scale: Perusahaan menganalisis tingkat stabilitas sistem serta permintaan pasar untuk memastikan produk siap masuk ke tahap ekspansi yang lebih luas.

13. Kesalahan yang Sering Terjadi saat Membuat MVP

Perusahaan kerap membuat MVP asal jadi, memasukkan terlalu banyak fitur, tidak menentukan hipotesis, mengabaikan success metric, hingga menguji kepada penggguna yang salah saat proses pengembangan. Berikut ini adalah kesalahan yang sering terjadi saat membuat MVP:

1. Menganggap MVP sebagai Produk Asal Jadi

Perusahaan sering meluncurkan aplikasi dengan kualitas buruk dan penuh dengan masalah teknis membuat orang enggan menggunakannya kembali. Akibatnya, tim tidak bisa menguji konsep produk yang sebenarnya ingin perusahaan tawarkan.

2. Memasukkan Terlalu Banyak Fitur

Developer kerap terjebak menambahkan berbagai fungsi sekunder ke dalam produk awal karena takut kehilangan calon pengguna. Langkah ini memperlambat proses rilis serta membengkakkan anggaran, sehingga perusahaan kehilangan momentum penting untuk memvalidasi fungsi utama di pasar.

3. Tidak Menentukan Hipotesis

Banyak developer membuat software tanpa merumuskan hipotesis bisnis atau tantangan utama yang ingin mereka buktikan kesuksesannya. Jika tidak ada hipotesis yang jelas, maka perusahaan tidak akan bisa memahami arah pengujian. Akibatnya, data penggunaan lapangan menjadi tidak relevan.

4. Tidak Menentukan Success Metric

Perusahaan meluncurkan produk awal tanpa memiliki kriteria atau batas ukuran yang jelas untuk mengukur keberhasilan sistem. Mengabaikan indikator ini membuat developer bingung mengambil keputusan, sehingga tim kesulitan menentukan langkah pengembangan pada tahap berikutnya.

5. Menguji kepada User yang Salah

Developer mengumpulkan masukan dari kelompok responden yang tidak sesuai dengan profil target pasar utama produk. Informasi yang kurang tepat ini dapat menyesatkan arah pengembangan sistem, sehingga perusahaan menghabiskan waktu merancang fitur yang tidak pengguna targetkan butuhkan.

14. Kapan Bisnis Sebaiknya Menggunakan MVP?

Perusahaan sebaiknya menerapkan MVP saat meluncurkan produk baru yang belum memiliki kepastian permintaan di pasar. Langkah ini membantu developer membuktikan asumsi bisnis secara langsung di lapangan, sehingga tim dapat memvalidasi daya tarik produk sebelum mengalokasikan anggaran besar.

Selain itu, bisnis perlu menggunakan produk awal ini ketika perusahaan memiliki keterbatasan dana dan waktu pengembangan. Tim developer dapat memfokuskan sumber daya yang ada untuk membangun fungsi paling krusial, sehingga produk siap menyapa calon pengguna dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Langkah ini juga sangat tepat saat tim ingin mengumpulkan masukan dari pengguna untuk mengarahkan alur pengembangan produk. Perusahaan dapat mengandalkan informasi ini sebagai sumber utama atau referensi utama bagi developer untuk meningkatkan fungsi aplikasi berdasarkan kebutuhan pasar yang sebenarnya.

15. Kesimpulan

Pengembangan MVP membantu perusahaan membatasi cakupan produk untuk memperoleh validasi pasar secara lebih awal. Langkah strategis ini menekan risiko serta biaya, sehingga developer mampu menguji asumsi bisnis secara cepat dan mengarahkan fokus pada kebutuhan utama pengguna.

Namun, perusahaan tetap membutuhkan koordinasi lintas tim, budgeting, project costing, hingga procurement yang terstruktur saat memproses MVP. ScaleOcean Atlas hadir menghubungkan workflow pengembangan produk dan accounting tersebut. Anda dapat berkonsultasi gratis sekarang untuk mengoptimalkan bisnis!

FAQ:

1. Apa contoh Minsimum Viable Product (MVP)?

MVP merupakan versi produk paling dasar dengan fitur utama untuk menguji pasar serta mengumpulkan masukan pengguna. Contohnya meliputi Dropbox yang bermula dari video demonstrasi tiga menit, Amazon yang awalnya hanya menjual buku secara daring, serta Airbnb yang menyewakan kasur angin di ruang tamu pendirinya.

2. Apa bedanya prototype dan MVP?

Prototype pada dasarnya adalah bentuk simulasi dari produk untuk menguji tampilan, proses interaksi, konsep desain, dan fungsi dari software. Sementara itu MVP adalah versi produk yang sudah sepenuhnya berfungsi dan akan langsung masuk ke pasar untuk mengevaluasi reaksi dan minat pengguna terhadap produk tersebut.

3. Apa saja 3 jenis prototipe?

Ada tiga jenis prototipe dalam proses pengembangan produk, yaitu Low Fidelity Prototype (sketsa sederhana), Medium Fidelity Prototype (sketsa menengah), dan High Fidelity Prototype (simulasi interaktif yang menyerupai produk asli).

Keisha Felita Aryamaulana
Keisha Felita Aryamaulana
Felita adalah SEO content writer yang merancang strategi dan menulis konten untuk membantu pelaku bisnis menemukan solusi tepat lewat pemanfaatan software ERP.

ERP Buat Bisnis Ngebut

Operasional rapi, bisnis makin cepat

ERP Dashboards Demo Gratis
Dekson Sinarmas Bank of China Changi Shalby

Coba Demo Gratis!

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap