Apa itu Edutech? Definisi, Jenis, dan Contoh Penerapannya

Posted on
Daftar Isi [hide]
Share artikel ini

Jaringan sekolah, yayasan, dan perguruan tinggi multi-unit sering mengelola akademik, pembayaran, SDM, hingga pelaporan melalui aplikasi yang terpisah-pisah. Kondisi ini membuat data tersebar dan koordinasi antarunit menjadi kompleks.

Oleh karena itu, Edutech hadir untuk membantu institusi pendidikan membangun sebuah proses digital yang terhubung dan terstruktur. Dengan sistem yang dapat dikonfigurasi sesuai kebutuhan sekolah, semua data dan alur kerja antarunit pun dapat dikelola dalam satu ekosistem operasional.

Penerapan edutech tidak hanya berkaitan dengan pembelajaran, tetapi juga dengan pengelolaan operasional institusi secara menyeluruh. Artikel ini membahas apa itu edutech, ruang lingkup, jenis, serta manfaatnya bagi sekolah.

starsKey Takeaways

Coba Konsultasi Gratis!

requestDemo

Apa Itu Edutech?

Edutech atau education technology adalah penggabungan software, dan hardware untuk mendukung dan memudahkan proses pembelajaran. Ini merupakan suatu ekosistem yang luas yang meliputi banyak alat dan layanan.

Istilah edutech dan edtech merujuk pada bidang yang sama, jadi sekolah dapat memakai keduanya secara bergantian. Dalam konsep digitalisasi sekolah, edutech menghubungkan perangkat, materi, dan kebiasaan pelajar. Dengan begitu, teknologi membantu mendukung semua kegiatan belajar di kelas.

Ruang Lingkup Edutech dalam Pendidikan

Ruang Lingkup Edutech dalam Pendidikan

Edutech menyentuh hampir semua aktivitas di sekolah, mulai dari ruang kelas sampai ruang guru. Karena cakupannya luas, enam area berikut membantu sekolah melihat di aspek apa saja teknologi memengaruhi pengalaman belajar siswa dari hari ke hari:

1. Penyampaian Materi Pembelajaran

Guru sekarang dapat menyampaikan materinya lewat video, modul digital, dan presentasi interaktif. Format tersebut membantu siswa memahami konsep abstrak dengan cara yang visual, menarik, dan mudah diingat.

Selain itu, siswa pun dapat membuka kembali materinya kapan saja sesuai keperluannya. Oleh karena itu, teknologi membantu memperkaya proses pengajaran agar tidak ada murid yang tertinggal.

2. Interaksi dan Kolaborasi di Kelas

Ruang diskusi digital memberikan siswa suatu tempat untuk saling bertukar ide dan pendapat, bahkan di luar jam pelajaran. Guru pun dapat mengikuti percakapannya langsung dan mengarahkan diskusi saat arahnya mulai melenceng. Kebiasaan ini membuat kelas terasa terbuka bagi semua siswa tanpa pengecualian.

Di sisi lain, dokumen bersama memungkinkan suatu kelompok menyusun tugasnya secara bersamaan tanpa harus ketemu langsung. Hasilnya, kerja kelompok pun bisa berjalan meskipun murid-muridnya tidak bisa bertemu langsung, ataupun melanjutkan tugas kelompoknya setelah waktu sekolah.

3. Latihan, Asesmen, dan Umpan Balik

Kuis digital menghitung skornya secara otomatis dan akurat, lalu menampilkan hasilnya langsung kepada siswa. Guru pun tidak perlu lagi memeriksa setiap lembar jawaban siswa satu per satu. Waktu yang tersisa dapat mereka pakai untuk menyiapkan pelajaran yang lebih menarik untuk siswa.

Dengan hasil yang cepat, siswa mampu memperbaiki masalahnya sebelum kebiasaan itu mengendap. Sementara itu, guru dapat memakai pola jawaban kelas untuk menentukan materi yang perlu dijelaskan ulang di kelas. Umpan balik pun berubah dari sekadar nilai akhir menjadi bagian nyata dari proses belajar.

4. Pemantauan Perkembangan Belajar Siswa

Dasbor belajar merangkum nilai, kehadiran, dan penyelesaian tugas seorang siswa, semua dalam satu platform. Dengan ini, wali kelas dapat melihat siswa mana yang tertinggal jauh sebelum ujian tiba. Informasi tersebut memungkinkan mereka menghubungi siswa dan orang tua untuk menyiapkan dukungan yang tepat sasaran untuk mereka.

Sistem informasi akademik yang rapi membuat data tersebut mudah ditelusuri dari semester ke semester. Namun, angka-angka tersebut hanya berharga jika guru mengambil tindakan lebih lanjut melalui komunikasi dan memberikan bantuan langsung kepada murid. Data itu masih perlu diperhatikan agar tidak disalahpahami oleh siapa pun.

5. Komunikasi antara Sekolah dan Orang Tua

Aplikasi yang digunakan untuk komunikasi sekolah mengirimkan pemberitahuan, jadwal, dan laporan akademik langsung ke perangkat seluler orang tua. Dengan ini, informasi tersebut langsung sampai tanpa memerlukan surat atau buku catatan yang lama. Orang tua tidak lagi perlu menunggu pembagian rapor untuk mengetahui kondisi anak mereka di sekolah.

Orang tua pun dapat bertanya langsung kepada wali kelas atau guru tanpa harus datang ke sekolah. Dengan begitu, mereka memantau perkembangan anaknya untuk memastikan siswa mendapatkan dukungan yang konsisten.

6. Pengelolaan Kegiatan Pendidikan

Aktivitas di sekolah seperti penjadwalan kelas, pendaftaran murid baru, dan pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler juga bisa dilakukan secara digital. Hal ini memungkinkan staf administrasi untuk mengotomatiskan tugas-tugas rutin sehingga mereka mendapatkan waktu lebih banyak untuk membantu guru dan murid.

Namun, sekolah harus memperkenalkan prosedur bahkan sebelum digitalisasi. Prosedur yang tidak teratur meskipun sudah didigitalisasi, masih sama saja. Oleh karena itu, sekolah harus mengoptimalkan prosedur mereka dengan memilih alat digital yang tepat.

Jenis-Jenis EdTech 

Jenis-Jenis EdTech 

EdTech hadir dalam banyak bentuk, dan setiap bentuknya menjawab kebutuhan yang berbeda. Kategori-kategori seperti platform pembelajaran dan kelas virtual, konten dan media belajar yang interaktif, hingga sistem pendukung operasional sekolah membantu memetakan teknologi yang sudah dipakai dan yang masih perlu dipertimbangkan.

Berikut jenis-jenis educational technology yang ada di operasional sekolah:

1. Platform Pembelajaran dan Kelas Virtual

Platform pembelajaran mengumpulkan materi, tugas, dan nilai semua ke dalam satu tempat yang mudah diakses kapan saja. Selain itu, kelas virtual menambahkan ruang tatap muka daring saat siswa atau guru tidak bisa hadir secara langsung di sekolah. Kedua alat ini menjaga kegiatan belajar agar tetap berjalan meskipun kelas berpindah tempat dengan cepat.

Oleh karena itu, platform sejenis ini menjadi fondasi bagi pembelajaran campuran. Sekolah memulai dari sini sebelum menambahkan jenis edtech lainnya. Langkah bertahap seperti ini memudahkan guru beradaptasi tanpa merasa kewalahan, sehingga penerapan teknologi berjalan mulus dan tenang.

2. Konten dan Media Belajar Interaktif

Hal seperti video animasi, buku digital, dan permainan edukatif mengemas materinya dengan cara yang menarik. Siswa dapat mencoba, mengulang ,dan bertanya tanpa merasa malu di depan temannya. Suasana belajarnya pun terasa lebih santai, tetapi tetap terarah. Guru juga punya berbagai cara untuk menjelaskan materi sulit.

Namun, guru tetap perlu memilih konten yang sesuai dengan kurikulum, tujuan belajar, dan usia siswanya. Materi yang menarik tidak selalu membawa siswa menuju tujuan pendidikannya. Oleh karena itu, guru disarankan untuk melihat atau mencoba materi tersebut sebelum menggunakannya di kelas.

3. Asesmen dan Umpan Balik Digital

Penilaian digital modern mampu mengevaluasi kinerja dan perkembangan siswa menggunakan kuis singkat, tes online, dan tugas harian. Mereka juga mampu memberikan umpan balik otomatis secara instan mengenai pertanyaan pilihan ganda atau pertanyaan singkat.

Guru harus mencatat hasil dari tugas tersebut, terutama jika tugas tersebut berhubungan dengan analisis atau pemecahan masalah. Dengan cara itu, penilaian tidak hanya sekedar angka, guru mendapatkan wawasan tentang wawasan tantangan-tantangan yang sering dihadapi oleh siswa.

4. Teknologi Aksesibilitas Pembelajaran

Ini membantu siswa berkebutuhan khusus mengikuti pelajaran bersama teman-teman sekelasnya. Contohnya seperti pembaca layar, teks otomatis untuk video, dan pengaturan ukuran huruf atau kontras. Fitur-fitur ini mengurangi hambatan yang selama ini menghalangi partisipasi sebagian siswa di kelas.

Fitur semacam ini bermanfaat bagi banyak siswa lain, misalnya yang belajar di lingkungan bising. Sekolah inklusif biasanya memperhitungkan aksesibilitas sejak tahap pemilihan teknologi. Dengan begitu, sekolah tidak perlu mengganti sistemnya hanya karena kebutuhan siswa baru muncul kemudian.

5. Analitik Perkembangan Belajar

Analitik belajar mengolah data aktivitas belajar siswa menjadi gambaran visual yang mudah dibaca. Guru dapat melihat topik yang sering dijawab keliru oleh banyak siswa atau tugas yang sering terlambat dikumpulkan. Informasi ini membantu mereka memutuskan bagian mana yang perlu dibahas ulang.

Meskipun demikian, data hanya menunjukkan gejala, bukan penyebab masalah tersebut. Oleh karena itu, guru perlu menggabungkan temuan tersebut dengan pengamatan langsung sebelum mengambil tindakan lanjutan. Percakapan singkat dengan siswa sering mengungkapkan alasan yang tidak terlihat di layar.

6. Smart Classroom

Smart classroom memakai layar interaktif, perangkat siswa, dan jaringan internet di dalam kelas. Guru dapat langsung menampilkan materinya, mengajukan pertanyaan, dan menerima jawaban siswa secara langsung. Suasana kelas pun menjadi lebih interaktif dibandingkan dengan kelas dengan papan tulis biasa.

Investasi seperti ini memerlukan perawatan hardware dan software, serta pelatihan guru secara berkala dan terencana. Tanpa dukungan tersebut, layang canggih mudah berubah menjadi papan tulis yang mahal. Sekolah perlu menyiapkan anggaran perawatan dan waktu latihannya sejak awal perencanaan.

7. Sistem Pendukung Operasional Sekolah

Di balik kegiatan belajar, sekolah secara rutin menjalankan kegiatan administrasi, keuangan, aset, dan pengadaan setiap hari kerja. Sistem pendukung operasional membantu mereka mengelola pekerjaannya agar guru dapat fokus mengajar saja. Pengelolaan yang rapi juga mengurangi risiko kesalahan pencatatan yang sering muncul.

Sekolah yang bertumbuh biasanya menghubungkan sistem-sistem ini agar datanya tidak tersebar dan terduplikasi di banyak tempat. Langkah tersebut membuat laporan lebih mudah disusun, diperiksa, dan dipertanggungjawabkan. Pimpinan pun bisa mengambil keputusan berdasarkan informasi yang konsisten.

Contoh Penerapan Edutech dalam Kegiatan Belajar

Penerapan edutech paling mudah dipahami lewat kegiatan yang benar-benar terjadi di kelas. Berikut lima contoh yang menunjukkan bagaimana teknologi mendukung cara guru mengajar dan cara siswa belajar baik di kelas langsung maupun secara online:

1. Pembelajaran Campuran di Kelas dan Online

Dalam pembelajaran hybrid, siswa dapat belajar secara tatap muka langsung dan mengerjakan sebagian tugasnya online. Guru dapat memakai waktu kelasnya untuk mengajar dan berdiskusi dengan murid yang hadir sekaligus memastikan siswa yang berhalangan tidak kelewatan materi untuk dipelajari.

Model ini menuntut jadwal yang jelas dan platform yang mudah dipakai. Jika keduanya tersedia, siswa pun terarah walaupun tidak selalu bertemu guru. Guru pun perlu menjelaskan sejak awal tugas mana yang dikerjakan di rumah dan mana yang dibahas di kelas.

2. Materi Belajar Sesuai Kebutuhan Siswa

Guru dapat memberikan latihan tambahan kepada siswa yang masih kesulitan dan memberikan tantangan bagi siswa-siswa yang sudah paham. Platform digital seperti ini memudahkan pembagian tersebut tanpa menambahkan beban pada administrasi guru. Guru cukup memilih paket latihan yang sesuai untuk setiap kelompok.

Dengan cara ini, satu kelas tetap belajar topik yang sama secara bersamaan sesuai kecepatan mereka masing-masing. Siswa pun merasa dihargai dan didengar karena materinya mengikuti kemampuan mereka.

3. Kuis Interaktif untuk Evaluasi Harian

Guru dapat membuat kuis singkat digital di akhir pelajarannya untuk memeriksa pemahaman siswa hari itu. Hasilnya muncul seketika, sehingga gurunya dapat menjelaskan ulang bagian yang masih membingungkan siswanya. Cara ini menghemat waktu dibandingkan dengan menunggu ulangan harian berikutnya.

4. Simulasi Digital untuk Praktik Belajar

Simulasi digital memungkinkan siswa mencoba percobaan sains atau praktik kejuruan tanpa risiko cedera dan tanpa menghabiskan bahan. Oleh karena itu, sekolah yang belum memiliki alat laboratorium lengkap tetap bisa menyediakan pengalaman praktik. Siswa pun dapat mengulangi percobaannya sampai paham.

Meskipun begitu, simulasi belum sepenuhnya menggantikan praktik langsung. Guru sebaiknya memakai fitur ini sebagai latihan awal agar siswa memahami langkah dan konsep percobaannya lebih dulu.

5. Proyek Kelompok melalui Platform Kolaborasi

Siswa dapat menyusun proyeknya bersama melalui dokumen dan papan tugas digital yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Guru dapat melihat kontribusi setiap anggota, sehingga penilaian pun menjadi adil dan transparan.

Kebiasaan ini juga melatih keterampilan kerja tim yang dibutuhkan di dunia kerja. Siswa belajar membagi tugas, memberikan masukan, dan menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggatnya. Pengalaman tersebut memberikan bekal yang tidak selalu bisa diperoleh dari ujian tertulis.

Manfaat Edutech bagi Guru, Siswa, dan Sekolah

Manfaat Edutech bagi Guru, Siswa, dan Sekolah

Manfaat edutech tidak sama bagi setiap pihak di lingkungan sekolah. Guru merasakannya pada beban kerja mereka, siswa merasakannya pada cara mereka belajar, dan sekolah pun merasa perbedaan pada cara mereka mengambil keputusan. Oleh karena itu, berikut manfaat edutech bagi setiap pihak sekolah:

1. Bagi Guru

Edutech membantu guru mengurangi pekerjaan berulang dan memberikan mereka ruang yang besar untuk mengajar. Berikut manfaat yang sering dirasakan guru:

  • Menghemat Waktu Menyiapkan Materi dan Penilaian: Guru dapat memakai ulang materi, bank soal, dan penilaian otomatis, sehingga waktu persiapan berkurang dan energi lebih banyak tersisa untuk berinteraksi dengan siswa.
  • Memantau Perkembangan Belajar Setiap Siswa: Data nilai dan aktivitas menunjukkan siswa yang membutuhkan bantuan, sehingga guru dapat memberi perhatian lebih awal dan menyesuaikan strategi mengajar.
  • Pembelajaran Menjadi Lebih Fleksibel: Guru dapat mengombinasikan tatap muka dan daring, sehingga kegiatan belajar tetap berjalan ketika siswa berhalangan hadir atau jadwal sekolah berubah mendadak.

2. Bagi Siswa

Siswa merasakan manfaat edutech lewat cara mereka mengakses materi dan menerima masukan dari guru. Berikut dampak edutech terhadap pengalaman belajar mereka:

  • Mengakses Materi Sesuai Kebutuhan Belajar: Siswa dapat mengulang penjelasan, memilih latihan tambahan, dan belajar dengan kecepatan sendiri, sehingga pemahaman terbentuk lebih kuat sebelum berpindah ke topik berikutnya.
  • Mendapat Umpan Balik Lebih Cepat: Hasil kuis dan tugas muncul dalam hitungan menit, sehingga siswa segera mengetahui kesalahan dan dapat memperbaikinya sebelum ujian berikutnya.
  • Partisipasi Siswa Lebih Aktif: Kuis, diskusi daring, dan proyek kolaboratif memberi siswa lebih banyak kesempatan berbicara, bertanya, dan menunjukkan pemahaman, termasuk bagi siswa yang pemalu.

3. Bagi Sekolah

Edutech memberikan gambaran belajar yang utuh dan mendukung keputusan yang terarah. Berikut manfaat yang paling relevan untuk pimpinan sekolah:

  • Melihat Hasil Belajar di Berbagai Kelas: Data yang terkumpul memungkinkan sekolah membandingkan capaian antarkelas dan antarmata pelajaran, sehingga kelas yang membutuhkan dukungan tambahan lebih cepat terlihat.
  • Mengambil Keputusan Berdasarkan Data Pembelajaran: Kepala sekolah dapat menilai program, pelatihan, dan penggunaan teknologi dengan bukti nyata, sehingga anggaran diarahkan ke kegiatan yang benar-benar membantu siswa.
  • Mempermudah Koordinasi Guru, Wali Kelas, dan Kepala Sekolah: Informasi belajar yang tersimpan dalam satu sistem membuat rapat lebih fokus, karena semua pihak membaca data yang sama dan mutakhir.

Perkembangan Edutech di Indonesia

Edutech di Indonesia tumbuh cepat sejak sekolah beralih ke pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi. Pemerintah pun ikut membangun ekosistemnya lewat Rumah Pendidikan yang diluncurkan Kemendikdasmen pada Januari 2025. Platform ini menjadi pintu utama layanan digital bagi guru dan siswa.

Menurut peta jalan resmi platform tersebut, tahap awalnya menyatukan lebih dari 950 aplikasi ke satu portal. Di luar itu, penyedia edtech swasta juga terus bertambah, sehingga sekolah perlu menilai kecocokan solusinya dengan kebutuhannya.

Contoh Perusahaan EdTech di Indonesia

Ekosistem edtech Indonesia diisi oleh perusahaan-perusahaan dengan fokus yang berbeda-beda, dari pendidikan sekolah sampai pengembangan keterampilan kerja. Berikut lima contoh yang menggambarkan variasi-variasi tersebut:

1. Ruangguru

Ruangguru menyediakan layanan belajar daring untuk siswa sekolah, termasuk video pelajaran, latihan soal, dan bimbingan belajar. Platform ini dipakai siswa untuk mempersiapkan ujian dan seleksi masuk perguruan tinggi. Layanannya pun mudah diakses lewat ponsel maupun komputer di berbagai daerah.

Selain itu, perusahaan ini mengembangkan layanan di luar pelajaran sekolah seperti pelatihan keterampilan. Ini menunjukkan bahwa satu perusahaan edtech dapat melayani beberapa kebutuhan sekaligus.

2. Quipper Indonesia

Quipper Indonesia menghadirkan platform pelajaran sekolah dengan fitur materi, latihan, dan pemantauan hasil belajar. Guru dapat menugaskan latihan lalu melihat pencapaian siswanya langsung di dasbor. Fitur ini membantu guru menyusun tindak lanjut yang tepat sasarannya.

Strategi ini cocok untuk sekolah-sekolah yang ingin menghubungkan kegiatan kelasnya dengan pembelajaran mandiri di rumah. Namun, harus ada jaminan dari sekolah itu sendiri jika materi-materi yang diberikan sesuai dengan kurikulumnya.

3. Cakap

Cakap fokus pada pembelajaran bahasa asing yang dipandu secara online langsung oleh seorang guru. Dengan cara ini, proses pembelajaran bahasa menjadi mirip dengan latihan percakapan yang normal.

Contoh ini juga menunjukkan bahwa edtech tidak terbatas pada sekolah formal. Dewasa dan profesional pun bisa memakai layanan digital untuk menambahkan kompetensi mereka secara mandiri.

4. Dibimbing.id

Dibimbing menawarkan pelatihan keterampilan digital yang relevan, misalnya di bidang data, desain, dan pemasaran digital. Program berbentuk bootcamp ini dibuat untuk orang yang sedang mencari kerja atau pekerja yang ingin mengubah kariernya. Materinya berfokus pada keterampilan yang dicari industri.

Para pelajar terlibat langsung dalam pembelajaran berbasis praktik dan bimbingan langsung dari mentor mereka. Dalam hal ini, penyedia layanan ini lebih dekat dengan dunia bisnis daripada kurikulum sekolah

5. Hacktiv8

Hacktiv8 menyelenggarakan bootcamp pemrograman bagi orang-orang yang ingin menjadi software developer. Kelasnya menekankan praktik menulis kode secara rutin dan membangun aplikasi dari nol.

Peran seperti ini melengkapi pendidikan formal dengan keterampilan teknis yang cepat berubah. Sekolah dan perguruan tinggi pun bisa bekerja sama dengan penyedia pelatihan untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja.

Kendala Penerapan Edutech di Sekolah

Teknologi secara otomatis membuat sekolah berjalan lancar tanpa kendala apa pun, terutama jika penerapannya terburu-buru. Berikut lima kendala yang perlu Anda antisipasi sejak awal penerapan edutech:

1. Akses Perangkat dan Internet Tidak Merata

Tidak semua siswa memiliki laptop atau ponsel sendiri di rumah, dan tidak semua daerah memiliki jaringan internet yang stabil. Kesenjangan ini membuat sebagian siswa tertinggal saat sekolah mengandalkan pembelajaran daring.

Sekolah dapat mengurangi masalah ini dengan menyediakan materi yang bisa diunduh dan memberikan perangkat pinjaman. Sekolah pun bisa menjadwalkan penggunaan perangkat secara bergiliran agar semua siswa mendapatkan kesempatan yang sama dalam belajar.

2. Konten Belum Tentu Sesuai Kebutuhan Kelas

Banyak platform menyediakan konten dalam jumlah besar, namun tidak semuanya sesuai dengan kurikulum, jenjang, dan konteks lokal. Guru harus memilah materinya agar siswa tidak belajar hal yang kurang relevan bagi mereka. Proses memilah ini memang memakan waktu, tetapi hasilnya masih sepadan bagi siswa.

Oleh karena itu, kualitas konten dapat diukur dari tingkat kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran dari institusi tersebut. Jumlah video pembelajaran atau jumlah pertanyaan yang tersedia bukan sebuah indikator kualitas, karena bisa saja ada banyak hal yang tidak relevan dengan kurikulum.

3. Aktivitas Tinggi Belum Berarti Siswa Paham

Hal-hal seperti waktu login, durasi belajar, serta jumlah tugas yang diselesaikan bisa ditampilkan pada dashboard pusat. Informasi tersebut menarik, namun bukan berarti para siswa memahami materinya dengan baik. Guru harus menilai hasil belajar siswa mereka melalui tugas dan diskusi langsung dengan murid-muridnya.

Menurut Laporan GEM UNESCO 2023, masih belum ada bukti independen mengenai dampak solusi edtech terhadap pemahaman materi para siswa. Ini berarti efektivitas teknologi ini tetap harus dievaluasi langsung di lapangan.

4. Guru Memerlukan Waktu untuk Menyesuaikan Praktik

Guru tidak hanya mengadaptasi penggunaan aplikasi tersebut, tetapi juga mengubah rencana pelajaran, teknik penilaian, serta pengelolaan kelas mereka. Hal ini membutuhkan waktu yang lama serta contoh praktik yang relevan bagi kelas mereka.

Sekolah dapat membantu lewat pelatihan singkat yang berulang dan kelompok belajar antarguru. Dukungan seperti ini biasanya lebih efektif dibandingkan dengan pelatihan besar di awal tahun. Guru yang sudah mahir bisa berbagi ilmu kepada rekannya.

5. Data Anak Memerlukan Perlindungan Khusus

Platform edtech mengumpulkan data pribadi siswa, mulai dari identitas, kontak orang tua, sampai riwayat belajarnya. Oleh karena itu, sekolah perlu berhati-hati saat mengelola data tersebut. Kebocoran data siswa bisa berdampak langsung pada keluarga dan menurunkan kepercayaan orang tua.

UU Pelindungan Data Pribadi mengatur pemrosesan data anak secara khusus dan mewajibkan persetujuan orang tua atau wali. Sekolah harus memastikan setiap penyedia edtech mereka mematuhi ketentuan itu sebelum siswa memakai layanannya, karena tanggung jawab pengelolaan data itu juga berada di tangan sekolah.

Bagaimana Cara Sekolah Menilai Solusi Edutech?

Memilih edutech untuk sekolah tidak cukup hanya dengan membandingkan fitur, tampilan, atau harga. Berikut enam hal yang Anda perlu perrtimbangkan untuk memastikan solusi yang dipilih benar-benar menjawab kebutuhan sekolah Anda:

1. Mulai dari Masalah Belajar yang Spesifik

Sekolah perlu menentukan masalah yang ingin diselesaikan, misalnya rendahnya keterampilan membaca siswa atau lambatnya umpan balik tugas. Tujuan yang jelas mencegah sekolah membeli teknologi hanya karena dipakai di sekolah lain.

Sekolah dapat menetapkan indikator sederhana untuk mengukur perubahan. Contohnya seperti waktu penilaian tugas, atau persentase siswa yang lulus. Indikator ini pun menjadi patokan ketika sekolah mengevaluasi hasil uji cobanya.

2. Periksa Kesesuaian Materi dan Jenjang

Guru juga harus menilai tingkat kesulitan dan kelayakan materi yang akan diajarkan. Materi yang tidak sesuai akan membingungkan para pelajar dan menciptakan lebih banyak pekerjaan bagi guru. Penilaian ini memastikan hal tersebut tidak terjadi di tengah-tengah semester.

Sekolah juga harus mempertimbangkan kesesuaian materi dengan kurikulum. Cukup satu percobaan di satu kelas saja untuk menentukan apakah materi tersebut layak dipertimbangkan. Hasil uji coba itu menjadi dasar keputusan yang meyakinkan semua pihak yang terlibat.

3. Minta bukti Dampak Pembelajaran

Sekolah bahkan bisa meminta penyedia materi untuk menunjukkan bukti efektivitas produk tersebut. Bukti dalam bentuk penelitian mandiri atau percobaan di lembaga serupa lainnya harus ditunjukkan. Pemasaran saja tidak bisa menjamin pembelian dalam jumlah besar.

Jika bukti tidak tersedia, sekolah dapat menjalankan pilot singkat di satu kelas dengan indikator yang jelas. Hasil pilot itu memberikan dasar yang kuat untuk keputusan berikutnya di sekolah.

4. Uji Pengalaman Guru dan Siswa

Guru dan siswa perlu mencoba solusi tersebut dalam situasi-situasi kelas yang nyata selama beberapa pekan. Mereka dapat menilai kemudahan penggunaan, kecepatan akses di jaringan sekolah, dan kejelasan tampilan. Penilaian dari pengguna pun lebih jujur dibandingkan dengan presentasi penyedia layanan.

Masukan mereka mengungkap masalah-masalah yang tidak terlihat dalam demo singkat penyedia. Oleh karena itu, sekolah sebaiknya mengumpulkan umpan balik secara terbuka dan rutin sebelum menandatangani kontrak.

5. Tinjau Data, Privasi, dan Ketergantungan Vendor

Sekolah perlu mengetahui jenis data yang dikumpulkan, tempat penyimpanannya, dan pihak-pihak yang dapat mengaksesnya. Kebijakan privasi yang jelas menjadi syarat penting, terutama untuk data pribadi anak. Sekolah juga sebaiknya meminta penyedia untuk menjelaskan cara mereka menangani insiden kebocoran.

Selain itu, sekolah sebaiknya memastikan data tersebut bisa diekspor jika suatu hari sekolah berhenti berlangganan atau berganti penyedia. Dengan begitu, sekolah tidak terkunci pada satu vendor saja.

6. Hitung Biaya Penggunaan Secara Menyeluruh

Biaya edutech tidak hanya mencakup lisensi, tetapi juga mencakup perangkat, jaringan, pelatihan khusus, dukungan teknis, dan pembaruan berkala. Sekolah harus menghitung semuanya secara rinci sebelum memutuskan untuk berlangganan.

Perhitungan menyeluruh ini juga membantu sekolah membandingkan beberapa solusi secara adil dan konsisten. Sekolah dapat merencanakan anggaran untuk beberapa tahun ke depannya.

Bagaimana Education ERP Mendukung Ekosistem Edutech

Bagaimana Education ERP Mendukung Ekosistem Edutech

ERP pendidikan menghubungkan data administrasi, keuangan, aset, dan sumber daya manusia sekolah dalam satu sistem. Data yang tersambung ini membantu pimpinan sekolah melihat kondisi sekolahnya tanpa mengumpulkan laporan dari banyak sumber. Proses pelaporan bulanan pun menjadi cepat dan konsisten.

Sekolah yang menggunakan beberapa platform edutech juga perlu memperhatikan proses di balik aktivitas pembelajaran. Data dari berbagai layanan menjadi bagian dari kebutuhan administrasi, pelaporan, dan pengambilan keputusan, sehingga alur kerja antarunit perlu tetap tertata.

Untuk kebutuhan tersebut, ScaleOcean Atlas for Education hadir sebagai sistem operasional terintegrasi yang membantu sekolah mengelola data, workflow, persetujuan, hak akses, dan visibilitas lintas fungsi. Implementasinya diawali dengan pemetaan kebutuhan institusi, kemudian dilakukan secara bertahap sesuai prioritas dan kesiapan sekolah.

Dengan pendekatan ini, transformasi digital sekolah Anda berjalan lebih terkontrol dan terukur sesuai kebutuhan Anda. Jika Anda ingin melihat bagaimana software tersebut membantu mengintegrasikan edutech dengan operasional sehari-hari Anda, segera jadwalkan konsultasi bersama tim kami sekarang!

Berikut modul-modul utama dari software ScaleOcean Atlas:

  • Admission Management: Membantu mengelola berbagai proses penerimaan didik dari inquiry, formulir, seleksi, pembayaran, hingga registrasi aktif semua dalam satu platform.
  • Lifecycle Administration: Mengelola data administrasi dari pendaftaran, penerimaan, status aktif, mutasi, hingga kelulusan.
  • Academic Calendar: Membantu menyusun kalender akademik untuk berbagai kegiatan ujian, libur, institusi, hingga jadwal pembayaran dan agenda pembelajaran.
  • Tuition Billing Schedule: Sistem mengatur pendidikan siswa berdasarkan periode, kelas, program, beasiswa, atau skema cicilannya.
  • Class Capacity Planner: Membantu mengatur kapasitas kelas agar pembagian siswa lebih seimbang dan terencana.
  • Parent Portal: Menyediakan platform komunikasi terpusat untuk semua pengumuman, pembayaran, aktivitas siswa, dan informasi akademik.

Kesimpulan

Edutech adalah ekosistem teknologi yang mencakup platform belajar, konten, asesmen, analitik, dan sistem pendukung sekolah. Manfaatnya terasa saat sekolah memilih solusi sesuai kebutuhan belajarnya, menyiapkan guru, dan melindungi data siswanya. Kesiapan sekolah menentukan hasil akhirnya.

ScaleOcean Atlas for Education adalah solusi ERP yang menyatukan data akademik, keuangan, aset, dan operasional sekolah dalam satu sistem yang terintegrasi. Jika Anda ingin melihat bagaimana software ini membantu proses sekolah Anda, segera jadwalkan sesi konsultasi bersama tim kami sekarang!

FAQ:

1. Edutech adalah perusahaan apa?

Edutech adalah istilah umum untuk perusahaan atau platform yang menggabungkan operasional pendidikan dengan sistem digital untuk memudahkan proses belajar mengajar.

2. Apa arti Edutech?

Education Technology adalah penggunaan teknologi untuk memudahkan, mendukung, serta melancarkan proses operasional sekolah.

3. Apa yang dimaksud dengan education?

Education adalah cara memberikan pengetahuan, keterampilan, serta mengembangkan karakter dan sifat manusia.

Adriel Thomas Dwiputranto
Adriel Thomas Dwiputranto
Adriel adalah SEO Content Writer dengan hampir 1 tahun dalam pembuatan konten informatif seputar bisnis, teknologi, dan transformasi digital yang membantu perusahaan enterprise dari berbagai industri di Indonesia.

ERP Buat Bisnis Ngebut

Operasional rapi, bisnis makin cepat

ERP Dashboards Demo Gratis
Dekson Sinarmas Bank of China Changi Shalby

Coba Demo Gratis!

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap