Mengelola stok persediaan dengan tepat seringkali menjadi tantangan bagi para pebisnis besar, terutama ketika perbedaan harga beli barang memengaruhi perhitungan harga pokok penjualan (HPP). Tanpa metode yang tepat, hal ini bisa berdampak pada keuntungan yang diperoleh.
Salah satu metode yang banyak diterapkan adalah FIFO (First In, First Out), yang mengasumsikan bahwa barang yang pertama kali masuk akan menjadi barang yang pertama kali keluar. Akibatnya, perhitungan persediaan dengan metode ini membuat persediaan akhir dihitung dengan harga perolehan yang paling baru.
Di artikel ini Anda akan mempelajari cara menghitung persediaan menggunakan metode FIFO dengan mudah dan jelas. Selain itu, Software Inventaris ScaleOcean membantu perusahaan mengelola persediaan secara otomatis, mengurangi risiko kesalahan perhitungan, dan meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan.
- Metode FIFO (First In, First Out) adalah metode yang menilai persediaan dengan asumsi barang pertama yang dibeli atau masuk adalah yang pertama dijual atau dikeluarkan.
- Rumus FIFO untuk menghitung HPP: mengalikan jumlah unit terjual dengan biaya persediaan yang paling awal masuk, dan jumlahkan untuk menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP).
- Software Inventaris ScaleOcean memastikan proses FIFO berjalan lancar dan akurat melalui sistem yang terotomatisasi dan terintegrasi.
Apa itu Perhitungan FIFO?
Perhitungan FIFO (First-In, First-Out) adalah metode penilaian persediaan di mana barang yang pertama kali masuk dianggap pertama kali keluar atau terjual. Dalam metode ini, harga pokok penjualan (HPP) dihitung berdasarkan unit pertama yang masuk, sementara persediaan akhir dihitung menggunakan harga unit terakhir yang dibeli.
Metode FIFO sangat berguna untuk menjaga konsistensi dalam metode penilaian persediaan dan mencegah penumpukan barang kadaluwarsa. Dengan FIFO, harga barang yang lebih baru akan tercatat dalam persediaan akhir, sementara barang yang lebih lama sudah terjual lebih dulu.
Cara menghitung metode FIFO (First-In, First-Out) juga memudahkan perusahaan dalam perencanaan dan pengendalian persediaan. Dengan FIFO, pengelolaan stok menjadi lebih transparan, terutama ketika ada fluktuasi harga pasar atau perubahan dalam permintaan konsumen.
Rumus Metode FIFO (First-In, First-Out)
Rumus FIFO digunakan untuk menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan mengalikan jumlah unit yang terjual menggunakan biaya persediaan paling lama (yang pertama masuk). Sementara itu, persediaan akhir dinilai berdasarkan biaya perolehan unit yang paling baru.
Secara umum, rumus FIFO adalah:
Biaya Barang yang Dijual = (Jumlah Barang yang Dijual) x (Harga Barang Pertama Kali Masuk)
Nilai Persediaan Akhir = (Jumlah Barang yang Tersisa) x (Harga Barang Terakhir Kali Masuk)
Metode ini juga berperan dalam menghitung laba kotor. Karena barang yang lebih murah dijual terlebih dahulu, perhitungan HPP akan lebih rendah, dan laba kotor cenderung lebih tinggi, terutama jika harga barang baru lebih tinggi.
Untuk meningkatkan efisiensi akuntansi persediaan, FIFO memudahkan perusahaan dalam memantau aliran barang dan memastikan laporan keuangan lebih akurat. Dengan metode ini, perusahaan dapat mengoptimalkan pengelolaan persediaan dan mengurangi potensi kesalahan dalam pencatatan.
Baca juga: Mengenal Manajemen Stok Barang: Manfaat dan Tips Pengelolaan
Cara Menghitung Metode FIFO
Untuk menghitung metode FIFO (First-In, First-Out), Anda harus menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan mengalikan jumlah barang yang terjual dengan biaya per unit dari persediaan yang pertama kali masuk (pembelian paling awal), kemudian menjumlahkannya.
Selanjutnya, nilai persediaan akhir dihitung berdasarkan unit yang terakhir kali masuk ke dalam persediaan. Untuk lebih detail, berikut adalah langkah-langkah cara menghitung FIFO:
1. Identifikasi Barang yang Masuk Pertama
Pertama, cara menghitung metode FIFO adalah mencatat semua pembelian barang secara kronologis, termasuk tanggal penerimaan, jumlah unit, dan harga per unit. Proses ini penting untuk memastikan semua data terkait persediaan tercatat dengan akurat, yang menjadi dasar perhitungan berikutnya.
2. Hitung Harga Pokok Penjualan (HPP)
Untuk menghitung HPP, ambil unit yang terjual dari persediaan yang paling awal masuk. Kalikan jumlah unit dengan harga per unit. Jika unit yang terjual lebih banyak dari persediaan awal, lanjutkan dengan pembelian berikutnya dan kalikan harga belinya sesuai urutan.
3. Hitung Persediaan Akhir
Langkah terakhir adalah menghitung persediaan yang masih ada setelah penjualan. Nilai persediaan akhir dihitung menggunakan harga pembelian barang yang paling baru, sesuai dengan prinsip FIFO yang menekankan penggunaan barang yang pertama kali diterima.
Selain itu, untuk mengoptimalkan pencatatan persediaan secara real-time, Anda bisa mencoba demo gratis dari Software Inventaris ScaleOcean. Software ini memudahkan pengelolaan persediaan dengan berbagai prinsip seperti metode FIFO, FEFO, LIFO, dan Average untuk memastikan laporan keuangan dan stok barang tetap terjaga dengan baik.
Contoh Perhitungan FIFO
Berikut adalah contoh menghitung FIFO yang diterapkan pada situasi yang berbeda, seperti diskon, penukaran barang, atau kenaikan harga. Simak penjelasannya di bawah ini:
1. Contoh FIFO: Barang yang Dijual dan Persediaan Akhir
Untuk menghitung biaya barang yang dijual dan nilai persediaan akhir dengan rumus FIFO, kita mengikuti urutan barang yang masuk. Dalam contoh ini, perusahaan membeli barang dalam tiga pengiriman dengan harga yang berbeda.
Pada Januari, perusahaan menjual 280 unit. Biaya barang yang dijual dihitung dengan mengambil barang yang pertama kali masuk terlebih dahulu (FIFO).
- 100 unit dari pengiriman pertama dihitung dengan harga Rp10.000 per unit:
100 unit x Rp10.000 = Rp1.000.000 - 180 unit berikutnya diambil dari pengiriman kedua dengan harga Rp12.000 per unit: 180 unit x Rp12.000 = Rp2.160.000
- Total biaya barang yang dijual = Rp1.000.000 + Rp2.160.000 = Rp3.160.000
- Nilai persediaan akhir dihitung dengan barang yang terakhir diterima (pengiriman ketiga) dengan harga Rp13.000 per unit: 150 unit x Rp13.000 = Rp1.950.000
Dengan memahami cara menghitung persediaan awal dan akhir menggunakan FIFO, perusahaan dapat menghitung dengan tepat biaya barang yang dijual dan nilai persediaan yang tersisa. Hal ini penting untuk memastikan keakuratan laporan keuangan dan pengelolaan persediaan.
2. Contoh Perhitungan FIFO: Kasus Persediaan yang Berubah-Ubah
Metode FIFO juga digunakan untuk menghitung persediaan ketika ada perubahan dalam jumlah dan harga pembelian. Misalnya, pada Januari dan Februari, perusahaan melakukan beberapa pembelian dengan harga berbeda. Pada Januari, perusahaan membeli barang dengan harga Rp10.000, Rp12.000, Rp13.000, dan Rp14.000 per unit.
Selanjutnya, di Februari, perusahaan membeli lebih banyak barang dengan harga yang lebih tinggi. Biaya barang yang dijual dihitung dengan mengambil barang dari pengiriman pertama hingga terakhir, sesuai urutan barang yang masuk.
- 100 unit dari pengiriman pertama dihitung dengan harga Rp10.000 per unit:
100 unit x Rp10.000 = Rp1.000.000 - 200 unit berikutnya dari pengiriman kedua dihitung dengan harga Rp12.000 per unit: 200 unit x Rp12.000 = Rp2.400.000
- 50 unit dari pengiriman ketiga dihitung dengan harga Rp13.000 per unit: 50 unit x Rp13.000 = Rp650.000
- 150 unit dari pengiriman keempat dihitung dengan harga Rp14.000 per unit: 150 unit x Rp14.000 = Rp2.100.000
- Total biaya barang yang dijual = Rp1.000.000 + Rp2.400.000 + Rp650.000 + Rp2.100.000 = Rp6.150.000
Nilai persediaan akhir dihitung dengan harga barang terakhir kali diterima:
- 50 unit x Rp13.500 = Rp675.000
- 50 unit x Rp14.000 = Rp700.000
- Total nilai persediaan akhir = Rp675.000 + Rp700.000 = Rp1.375.000
Selain itu, saat menghitung biaya barang yang dijual dengan metode FIFO, penting juga untuk mempertimbangkan cara menghitung safety stock. Dengan mengetahui level stok yang aman, perusahaan dapat menghindari kekurangan barang meskipun harga atau jumlah pembelian berfluktuasi.
3. Contoh Perhitungan FIFO: Barang Diskon
Jika barang dibeli dengan harga diskon, FIFO tetap digunakan untuk menghitung biaya barang yang dijual. Dalam contoh ini, perusahaan membeli 100 unit dengan harga Rp10.000 per unit pada 15 Januari, lalu mendapatkan diskon 10% pada 50 unit pada 25 Januari. Kemudian, mereka membeli 150 unit dengan harga Rp12.000 pada 30 Januari.
Biaya barang yang dijual dihitung dengan harga diskon untuk barang yang pertama kali masuk dan harga normal untuk barang yang berikutnya.
- 50 unit dengan diskon 10% dihitung dengan harga Rp9.000 per unit: 50 unit x Rp9.000 = Rp450.000
- 150 unit berikutnya dihitung dengan harga Rp12.000 per unit: 150 unit x Rp12.000 = Rp1.800.000
- Total biaya barang yang dijual = Rp450.000 + Rp1.800.000 = Rp2.250.000
Nilai persediaan akhir dihitung dengan harga barang terakhir diterima (semua barang yang datang pada pengiriman ketiga):
- 50 unit x Rp12.000 = Rp600.000
- 100 unit x Rp12.000 = Rp1.200.000
- Total nilai persediaan akhir = Rp600.000 + Rp1.200.000 = Rp1.800.000
4. Contoh FIFO: Kasus Barang yang Ditukar
FIFO juga digunakan dalam kasus di mana barang yang dibeli ditukar. Dalam cara menghitung metode FIFO ini, perusahaan membeli 100 unit barang dengan harga Rp10.000 per unit pada 1 Januari, dan kemudian menukar 50 unit pada 15 Januari dengan harga Rp12.000 per unit.
Biaya barang yang dijual dihitung dengan mengambil barang dari pengiriman pertama, kedua, dan ketiga sesuai dengan urutan FIFO.
- 100 unit dari pengiriman pertama dihitung dengan harga Rp10.000 per unit: 100 unit x Rp10.000 = Rp1.000.000
- 50 unit dari pengiriman kedua dihitung dengan harga Rp12.000 per unit: 50 unit x Rp12.000 = Rp600.000
- 100 unit dari pengiriman ketiga dihitung dengan harga Rp13.000 per unit: 100 unit x Rp13.000 = Rp1.300.000
- Total biaya barang yang dijual = Rp1.000.000 + Rp600.000 + Rp1.300.000 = Rp2.900.000
Nilai persediaan akhir dihitung dengan mengambil barang yang tersisa dari pengiriman ketiga:
- 50 unit x Rp13.000 = Rp650.000
5. Contoh Perhitungan FIFO: Kenaikan Harga
Tidak hanya itu, cara menghitung FIFO juga berlaku saat terjadi kenaikan harga barang. Misalnya, perusahaan membeli 100 unit barang pada 10 Januari dengan harga Rp10.000, lalu 200 unit pada 20 Januari dengan harga Rp12.000. Pada 25 Januari, harga barang naik menjadi Rp15.000 per unit.
Biaya barang yang dijual dihitung dengan mengikuti urutan FIFO.
- 100 unit dari pengiriman pertama dihitung dengan harga Rp10.000 per unit: 100 unit x Rp10.000 = Rp1.000.000
- 150 unit dari pengiriman kedua dihitung dengan harga Rp12.000 per unit: 150 unit x Rp12.000 = Rp2.400.000
- 50 unit dari pengiriman ketiga dihitung dengan harga Rp12.000 per unit: 50 unit x Rp12.000 = Rp600.000
- 100 unit dari pengiriman keempat dihitung dengan harga Rp15.000 per unit: 100 unit x Rp15.000 = Rp1.500.000
- Total biaya barang yang dijual = Rp1.000.000 + Rp2.400.000 + Rp600.000 + Rp1.500.000 = Rp5.500.000
Nilai persediaan akhir dihitung dengan barang yang terakhir diterima (pengiriman keempat):
- 50 unit x Rp15.000 = Rp750.000
- 100 unit x Rp15.000 = Rp1.500.000
- Total nilai persediaan akhir = Rp750.000 + Rp1.500.000 = Rp2.250.000
Secara keseluruhan, dengan menggunakan rumus metode FIFO, barang yang dijual dihitung berdasarkan harga barang yang pertama kali masuk ke dalam persediaan. Hasil ini juga mempengaruhi nilai persediaan yang tersisa, yang akan dihitung berdasarkan harga unit yang lebih baru.
Baca juga: Rumus LIFO, Cara Menghitung, dan Contohnya
Studi Kasus Perhitungan FIFO dalam Bisnis

Metode First In, First Out (FIFO) sering diterapkan dalam industri dengan produk yang memiliki umur simpan pendek, seperti makanan, minuman, dan farmasi. Pada industri makanan dan minuman, FIFO memastikan produk yang pertama kali diproduksi atau diterima dijual lebih dahulu, mencegah kedaluwarsa dan menjaga kualitas.
Di sektor farmasi, contoh FIFO juga digunakan untuk memastikan obat-obatan yang lebih lama disimpan digunakan terlebih dahulu, agar tetap efektif dan aman bagi konsumen. Dengan demikian, produk yang lebih tua selalu mendapat prioritas dalam proses distribusi.
PT Unilever Indonesia Tbk, salah satu perusahaan FMCG di Indonesia, menerapkan FIFO dalam manajemen rantai pasok untuk mengelola ribuan SKU produk rumah tangga dan perawatan tubuh. Dengan pendekatan ini, nilai persediaan di laporan keuangan cenderung mencerminkan harga yang lebih terkini, sekaligus membantu memastikan perputaran barang di pusat distribusi berjalan lebih rapi dan efisien.
Untuk mendukung implementasi FIFO, perusahaan ini menggunakan sistem manajemen berbasis web yang memungkinkan transformasi digital mencakup audit berbasis aplikasi dan real‑time monitoring produksi yang terintegrasi dengan ERP, membantu pengendalian kualitas dan proses stok secara akurat.
Selain itu, dengan dukungan software inventory terbaik, salah satunya dari vendor ERP lokal ScaleOcean, Anda juga dapat mengoptimalkan pengelolaan stok dan mengurangi kesalahan yang sering terjadi akibat pencatatan manual. Integrasi dengan sistem ERP memungkinkan data stok yang lebih akurat, meminimalkan risiko kehabisan barang atau kelebihan persediaan.
Permasalahan Umum dalam Implementasi FIFO

Implementasi metode FIFO sering kali menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi efektivitasnya. Faktor seperti pengelolaan stok yang tidak optimal hingga kesalahan pencatatan sering menjadi kendala utama yang perlu diatasi agar FIFO dapat diterapkan secara maksimal.
1. Pengelolaan Stok yang Tidak Teratur
Tantangan utama dalam penerapan FIFO adalah pengelolaan stok yang tidak teratur, seperti penempatan barang yang salah. Hal ini dapat menyebabkan barang lama tertinggal dan tidak terpakai. Solusi efektif adalah menerapkan sistem rotasi stok yang ketat dan menggunakan perangkat lunak untuk memantau pergerakan barang secara real-time.
2. Kesalahan Pencatatan Data Persediaan
Kesalahan pencatatan sering terjadi karena proses manual yang rentan terhadap human error. Akibatnya, nilai persediaan menjadi tidak akurat. Perusahaan dapat mengatasi masalah ini dengan menerapkan otomatisasi dalam pencatatan data, menggunakan sistem inventory yang dirancang untuk mendukung metode FIFO.
3. Kurangnya Pelatihan Karyawan
Ketidakpahaman karyawan terhadap prosedur FIFO dapat menyebabkan penerapan yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan perlu menyediakan pelatihan rutin dan panduan kerja yang jelas, agar semua staf bisa memahami pentingnya FIFO serta cara menerapkannya secara efektif dalam operasional sehari-hari.
4. Kendala Infrastruktur dan Teknologi
Beberapa perusahaan menghadapi kendala infrastruktur yang kurang memadai, seperti ruang penyimpanan yang tidak sesuai atau tidak adanya teknologi pendukung. Solusi terbaik adalah meningkatkan kapasitas gudang dan menginvestasikan teknologi seperti barcode atau RFID untuk memantau stok dengan lebih efisien.
Otomatisasi Perhitungan FIFO dengan ScaleOcean Inventory Software
Software Inventory ScaleOcean adalah perangkat lunak yang membantu bisnis dalam mengoptimalkan pengelolaan inventaris melalui otomatisasi perhitungan FIFO (First In, First Out), sehingga setiap transaksi tercatat lebih akurat dan proses kontrol stok berjalan lebih efisien, sehingga bisa meminimalkan risiko pemborosan maupun kesalahan perhitungan.
Dengan visibilitas stok real-time, Anda dapat memantau pergerakan barang dari awal hingga akhir, mencegah overstock maupun kekurangan barang, sekaligus mempercepat pengambilan keputusan.
ScaleOcean juga mudah dikonfigurasi sesuai kebutuhan, terintegrasi antarmodul secara mulus, serta dapat dihubungkan dengan software akuntansi untuk menyelaraskan pencatatan dan meningkatkan ketepatan perhitungan. Di sisi operasional gudang, sistem ini mendukung pengaturan penyimpanan, pemrosesan pesanan, hingga pelacakan distribusi barang secara menyeluruh.
Software Inventory ScaleOcean menghadirkan fitur unggulan, seperti:
- Otomatisasi Perhitungan FIFO: Fitur ini secara otomatis menghitung dan mengelola stok menggunakan metode FIFO, memastikan barang yang masuk pertama kali dikeluarkan terlebih dahulu.
- Stock Forecasting: Prediksi kebutuhan stok berdasarkan data historis dan tren.
- Audit dan Pelacakan Barang: Memungkinkan pencatatan setiap pergerakan barang dari penerimaan hingga pengiriman, memberikan transparansi dan memastikan akurasi data stok.
- Run Rate Reordering Rules: Pengaturan waktu optimal untuk pemesanan ulang.
- Pemantauan Stok Multi-Lokasi: Memungkinkan pengelolaan inventaris di berbagai lokasi atau cabang dalam satu platform terpusat.
- Quality Control Management: Memastikan kualitas barang yang masuk sesuai standar.
- Pelaporan dan Analisis Data Canggih: Fitur analitik memberikan wawasan mendalam tentang pola konsumsi, tren penjualan, dan kebutuhan stok.
- Racking Capacity Management: Optimalisasi ruang penyimpanan dengan strategi penempatan.
Kesimpulan
Metode FIFO (First-In, First-Out) adalah salah satu pendekatan pengelolaan stok di mana barang yang pertama datang akan menjadi barang yang pertama keluar. Sebaliknya, produk yang terakhir masuk akan dijual atau dikeluarkan paling akhir.
Dalam penerapannya, penting untuk memastikan perputaran barang yang optimal dan mencatat persediaan secara akurat untuk mendukung operasional bisnis. Dengan pemahaman yang baik dan penerapan metode ini secara efektif, perusahaan dapat mengelola persediaan secara lebih efisien, mengurangi potensi kerugian, serta meningkatkan profitabilitas.
Implementasi software inventory ScaleOcean dapat menyediakan solusi untuk memantau perputaran stok secara real-time untuk mendukung keputusan bisnis yang lebih akurat. Untuk kemudahan pengelolaan persediaan yang lebih praktis, lakukan demo gratis untuk dapatkan solusi terbaik dan sesuai kebutuhan bisnis spesifik Anda.
FAQ:
1. Kapan menggunakan metode FIFO?
Metode FIFO sering digunakan perusahaan untuk mengeluarkan barang yang pertama kali masuk inventaris terlebih dahulu. Ini ideal untuk produk mudah rusak atau kadaluarsa serta saat harga bahan baku naik.
2. Apa contoh dari metode FIFO?
Contoh metode FIFO dapat dilihat pada toko kelontong atau minimarket yang menjual makanan dan minuman, di mana stok lama dijual lebih dulu untuk mencegah kedaluwarsa, serta pada perusahaan pakaian yang menempatkan barang terbaru di depan agar cepat terjual.
3. Apa kelebihan dari metode FIFO?
Metode FIFO memastikan barang yang pertama masuk digunakan atau dijual terlebih dahulu, mengurangi risiko kerusakan atau kedaluwarsa. FIFO juga menurunkan HPP sehingga meningkatkan laba kotor.
4. Metode FIFO cocok untuk barang apa?
Metode FIFO cocok untuk barang yang tidak dipengaruhi tren pasar dan selalu dibutuhkan konsumen, seperti bahan pangan pokok, makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, dan produk kimia.
5. Bagaimana cara menghitung metode FIFO?
Untuk menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), Anda perlu mengambil biaya dari unit-unit terlama hingga jumlah unit yang terjual terpenuhi. Sederhananya, Anda mengalikan unit yang terjual dengan harga beli paling awal.














































WhatsApp Tim Kami
Demo With Us



