
Halo, kami siap bantu cari solusi ERP sesuai kebutuhan Anda.
Konsultasi Sekarang
Manajemen gudang yang efektif harus dilengkapi dengan perencanaan inventaris yang tepat, sehingga kebutuhan produksi tidak diabaikan dan sekaligus mengurangi tingkat inventaris yang berlebihan. Hal ini mencakup perhitungan titik tepat dimana perusahaan akan membutuhkan pesanan lagi.
Reorder point merupakan batas persediaan yang menjadi acuan kapan perusahaan perlu melakukan pemesanan ulang. Konsep ini berperan penting dalam manajemen gudang dan supply chain karena dapat membantu menjaga ketersediaan barang sekaligus mengurangi risiko stockout. Artikel ini akan membahas pengertian reorder point, cara menghitungnya, serta penerapannya dalam pengelolaan persediaan.
Reorder point adalah titik persediaan terendah yang dimiliki suatu perusahaan sebelum memesan ulang stok karena pasokan mereka habis. Dalam kebanyakan kasus tingkat ini ditentukan setelah mengevaluasi permintaan produk dan waktu pengiriman sehingga mereka dapat mencegah situasi kekurangan atau kelebihan stok.
Jika titik pemesanan ulang (ROP) telah ditentukan, perusahaan akan dapat memenuhi permintaan sampai datangnya pesanan berikutnya. Dengan demikian, titik pemesanan ulang adalah titik pemicu dalam sistem pengelolaan stok gudang.
Dengan ROP yang tepat akan memastikan permintaan barang dapat terpenuhi hingga pesanan produk yang baru diterima. Dengan itu, titik pemesanan ulang berada dalam titik pemicu pada manajemen gudang. Ketika persediaan barang telah berkurang dari angka yang telah ditentukan, maka akan menyederhanakan inventory dan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memesan ulang barang.
Reorder Point (ROP) adalah alat penting yang membantu perusahaan mengelola persediaan agar tidak kehabisan barang. Oleh karena itu, penting untuk memperhitungkan waktu tunggu dan stok pengaman (safety stock), sehingga barang tetap tersedia setiap saat dibutuhkan tanpa menumpuk terlalu banyak barang. Berikut adalah beberapa keuntungan utama dari ROP:
Perhitungan titik pemesanan ulang membantu perusahaan mengetahui kapan persediaan barang mulai menipis. Dengan mempertimbangkan waktu pengiriman dan stok cadangan, perusahaan dapat memastikan ketersediaan barang yang cukup untuk memenuhi permintaan pasar tanpa terjadinya kekurangan stok yang dapat mengganggu operasional.
Dengan metode pemesanan yang tepat waktu, perusahaan dapat menghindari pembelian barang berlebihan yang meningkatkan biaya penyimpanan. Pendekatan ini membantu alokasi anggaran lebih optimal, mengurangi pemborosan, serta menjaga biaya operasional tetap terkendali.
Penerapan purchasing dan manajemen inventory yang baik memungkinkan perusahaan memantau pengadaan secara cermat. Dengan demikian, hanya barang yang benar-benar dibutuhkan yang dibeli, sehingga biaya tidak perlu dapat diminimalkan.
Menentukan waktu yang tepat untuk pengadaan barang memastikan proses pemenuhan permintaan berjalan lancar. Dengan penetapan titik restock persediaan yang baik, perusahaan dapat menghindari gangguan dalam rantai pasokan, meminimalkan waktu tunggu, dan meningkatkan produktivitas operasional secara keseluruhan.
Dengan sistem pengelolaan stok yang tepat, perusahaan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan. Ketersediaan barang yang konsisten dan pengiriman yang tepat waktu meningkatkan kepuasan pelanggan, memperkuat hubungan jangka panjang, dan memastikan loyalitas mereka terhadap merek perusahaan.
Penetapan reorder point tidak bisa hanya mengandalkan satu angka tetap .Sangat penting bagi perusahaan untuk memperhitungkan banyak variabel yang berbeda seperti berapa banyak stok yang digunakan,waktu tunggu yang terlibat dalam pembelian dan juga adanya perubahan dalam permintaan.
Beberapa faktor utama yang memengaruhi penetapan reorder point adalah:

Mengabaikan reorder point dalam pengelolaan inventaris dapat menurunkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan stok. Berikut beberapa konsekuensi yang mungkin terjadi jika reorder point tidak diperhatikan dengan baik:
Hal ini bisa terjadi ketika persediaan melebihi kebutuhan aktual, yang menyebabkan biaya penyimpanan membengkak dan barang menumpuk tanpa terjual. Kondisi ini mengunci modal perusahaan dalam stok yang tidak bergerak, sehingga mengurangi likuiditas dan berpotensi merugikan keuangan.
Kondisi stok yang habis (out of stock) atau sangat rendah menghambat kemampuan perusahaan untuk memenuhi permintaan konsumen. Tingkat persediaan yang rendah bisa membuat perusahaan kehilangan konsumen dan pendapatan, serta terganggu secara operasional yang akan memaksa mereka untuk membeli secara mendesak dengan biaya yang lebih tinggi.
Peningkatan permintaan dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan tanpa perhitungan yang benar dari titik pengulangan. Kondisi ini menyulitkan perusahaan dalam menjaga stabilitas stok serta konsistensi layanan. Laporan good receipt yang baik memainkan peran penting dalam menentukan perencanaan inventaris dan pembelian.
Pengelolaan stok yang kurang akurat bisa menyebabkan keterlambatan dalam pengadaan barang atau barang yang tersedia tidak sesuai dengan yang sebenarnya dibutuhkan. Hal ini mempengaruhi proses seperti pengiriman, penerimaan dan pemenuhan pesanan serta pergerakan barang di dalam gudang sehingga mengurangi produktivitas.
Untuk mengatasi hal ini, penerapan metode period order quantity (POQ) dapat membantu perusahaan merencanakan pemesanan barang dengan lebih terstruktur, mengurangi gangguan dalam alur kerja operasional dan memastikan stok selalu tersedia sesuai kebutuhan.
Mengabaikan reorder point dapat berdampak negatif pada reputasi sebuah perusahaan. Tingkat stok yang tinggi akan meningkatkan biaya penyimpanan sedangkan tingkat stok yang rendah bisa mengurangi keuntungan bahkan bisa mengurangi jumlah pelanggan. Kedua faktor ini akan memberikan dampak negatif pada nilai perusahaan.
Untuk mencegah adanya pengabaian titik pemesanan ulang, Anda bisa gunakan perangkat lunak ERP. Melalui perangkat lunak ERP, perusahaan akan lebih mudah dalam memantau stok mereka secara real time, dan mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk menghitung titik pemesanan ulang mereka.
Baca juga: Sell Through Rate: Definisi, Contoh, serta Perhitungannya
Setelah mengenal apa itu reorder point, ada beberapa aspek untuk menentukan ROP dalam manajemen gudang yang berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi kebutuhan produksi, persediaan barang, dan pengambilan keputusan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menunjang optimalisasi manajemen gudang:
Disebut juga sebagai konsumsi rata-rata merupakan pemahaman mengenai banyaknya produk yang biasanya terjual, digunakan, dan permintaan oleh pelanggan selama periode tertentu. Hal ini dapat membantu menentukan dan memprediksi kebutuhan persediaan.
Fill rate yang baik juga bergantung pada pemahaman average demand, karena hal ini memungkinkan perusahaan untuk memastikan persediaan yang tepat tersedia sesuai dengan permintaan pelanggan. Aspek ini merupakan faktor penting untuk mengetahui seberapa banyak persediaan yang biasanya dibutuhkan pelanggan untuk menentukan seberapa banyak produk yang harus dipesan ulang.
Lead time adalah rentang waktu antara sebuah pesanan dibuat sampai saat barang tersebut diterima di gudang. Dalam rumus yang digunakan untuk menghitung titik pengulangan pesanan, periode lead time ini digunakan untuk menghitung lead time permintaan, yaitu permintaan barang selama waktu menunggu sebelum pengiriman dilakukan.
Dengan mengetahui permintaan lead time tersebut, termasuk stock replenishment, perusahaan dapat mengetahui kapan harus melakukan pengisian stok agar tingkat persediaan tetap cukup.
Safety stock merupakan persediaan tambahan yang disiapkan oleh suatu usaha untuk memenuhi kenaikan permintaan yang tidak terduga atau keterlambatan pengiriman barang. Stok cadangan membantu organisasi dalam menjaga ketersediaan barang dalam kasus ada perbedaan antara situasi yang diharapkan dan situasi yang sebenarnya.
Jumlah stok cadangan harus dihitung berdasarkan kebutuhan dan risiko yang terlibat, bukan hanya dengan menyimpan stok tambahan.Perusahaan akan dapat menghindari kemungkinan kehabisan stok tanpa harus menanggung biaya yang tinggi atas fasilitas penyimpanan melalui perhitungan yang baik.
Mari kita lihat contoh perhitungan reorder point pada perusahaan ritel. Misalkan sebuah toko pakaian memiliki permintaan rata-rata 100 potong pakaian per minggu. Waktu pengiriman dari supplier membutuhkan waktu 7 hari.
Karena toko mengantisipasi fluktuasi permintaan selama musim liburan, toko memutuskan untuk menyimpan safety stock sebanyak 150 potong pakaian. Dengan menggunakan rumus reorder point, berikut adalah cara menghitungnya:
Reorder Point = (100 potong/minggu x 7 hari/7 hari) + 150 potong
Reorder Point = 100 potong + 150 potong = 250 potong
Artinya, ketika stok pakaian di toko mencapai 250 potong, toko perlu segera melakukan pemesanan ulang agar persediaan tetap tersedia selama periode permintaan tinggi. Dengan perhitungan reorder point yang tepat, perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan sekaligus mengurangi risiko kekurangan maupun kelebihan stok yang dapat merugikan bisnis.
Agar hasilnya tetap akurat, perusahaan sebaiknya memprioritaskan perhitungan ROP pada barang bernilai tinggi atau krusial melalui analisis ABC. Nilainya juga perlu dievaluasi secara berkala mengikuti perubahan permintaan, musim, dan performa pemasok. Jika jumlah SKU sudah mencapai ratusan atau ribuan, penggunaan software inventaris atau ERP dapat membantu memantau stok serta sinyal pemesanan ulang secara real-time.
Selain itu, setiap barang yang masuk perlu tercatat dengan baik. Perusahaan dapat menggunakan surat penerimaan barang sebagai bukti penerimaan sekaligus acuan untuk memperbarui data stok. Dikutip dari Medium, penerapan sistem reorder point membantu perusahaan meminimalkan stockout dan menjaga tingkat persediaan tetap lebih optimal.
Mengelola reorder point secara manual bisa menjadi sulit bagi bisnis karena jumlah SKU, transaksi dan gudang semakin bertambah setiap hari. Kesalahan saat mencatat atau keterlambatan dalam memperbarui informasi bisa mengakibatkan pemesanan terlalu awal atau terlalu terlambat yang menyebabkan kelebihan stok atau kehabisan stok.
Modul pengelolaan inventaris ScaleOcean Atlas akan memudahkan perusahaan untuk mengelola stok barang dan prosedur pengulangan pesanan dalam satu sistem. ScaleMind sebagai AI Business Assistant akan memudahkan analisis dari tren kebutuhan stok.
Perusahaan dapat menjadwalkan konsultasi dengan tim ScaleOcean untuk membahas bagaimana konfigurasi sistem dapat disesuaikan sesuai dengan operasional gudang dan kebutuhan mereka.
Dibawah ini adalah fitur ScaleOcean yang memudahkan pengelolaan reorder point:
Dengan proses yang lebih terstruktur, perusahaan dapat menjaga ketersediaan barang sesuai kebutuhan, mengurangi risiko stockout maupun overstock, serta membuat perencanaan persediaan lebih konsisten dengan aktivitas operasional.
Reorder point adalah tingkat stok terendah yang akan menjadi titik rujukan untuk memesan kembali sebelum stok habis. Konsep titik pengulangan menciptakan keseimbangan antara memiliki stok yang cukup dan sekaligus memiliki biaya penyimpanan stok yang rendah.
Dengan aplikasi stok barang, pemantauan reorder point dapat dilakukan lebih otomatis berdasarkan kondisi persediaan. Perusahaan pun dapat memenuhi kebutuhan pelanggan tanpa menyimpan stok secara berlebihan, sehingga pengelolaan gudang dan biaya penyimpanan menjadi lebih efisien. Jadwalkan konsultasi dengan tim ScaleOcean untuk mengetahui bagaimana sistem dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan persediaan perusahaan Anda.
Reorder point (ROP) adalah batas stok yang menandakan kapan perusahaan perlu melakukan pemesanan ulang. ROP biasanya dihitung berdasarkan tingkat pemakaian barang, lead time pemasok, dan safety stock agar perusahaan dapat mengurangi risiko stockout dan menjaga ketersediaan barang.
Anda dapat menghitung reorder point dengan rumus sederhana:
ROP = (Lead Time × Average Daily Sales) + Safety Stock
Reorder point penting karena membantu mencegah kehabisan stok saat lead time, mengoptimalkan biaya persediaan, meningkatkan efisiensi pemesanan ulang, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat dalam pengelolaan rantai pasok.